PBB, New York (ANTARA News) - Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Rabu (11/12), menyeru Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina agar menyelesaikan perbedaan pendapat mengenai pemilihan anggota parlemen melalui dialog.

Sekretaris Jenderal PBB menyampaikan keprihatinan yang mendalam mengenai kerusuhan yang tersebar luas di Bangladesh, yang dilaporkan telah menewaskan puluhan orang sejak November, kata Juru Bicara PBB Martin Nesirky kepada wartawan di Markas Besar PBB, New York.

Ban berbicara dengan Hasina dan Presiden Bangladesh Abdul Hamid melalui telepon saat Asisten Sekretaris Jenderal PBB Urusan Politik Oscar Fernandez-Taranco mengakhiri kunjungan ke negara Asia Selatan itu. Fernandez mengeluarkan pernyataan mengenai krisis politik saat ini telah membuat Bangladesh menderita kerugian berupa hilangnya nyawa warga, kerugian sosial dan ekonomi. Perselisihan tersebut juga menimbulkan ancaman sosial dan kemajuan ekonomi, yang dengan susah-payah dicapai oleh Bangladesh.

Pembicaraan yang diperantarai PBB tidak menghasilkan apa-apa guna mengakhiri pertikaian mengenai pemilihan umum, demikian laporan Xinhua, Kamis. Sementara itu, pejabat senior PBB tersebut meninggalkan Bangladesh dengan harapan bahwa "kedua partai utama akan melanjutkan pembahasan".

Utusan PBB tersebut pada Sabtu (7/12) melancarkan misi untuk merujukkan kedua partai politik utama Bangladesh sebagai upaya terakhir guna menyelesaikan konflik berdarah itu.

(C003)