Jakarta (ANTARA News) - Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menyatakan, permohonan maafnya bila melecehkan jurnalis karena tak ada niat sedikitpun untuk melecehkannya.

"Tidak ada sedikitpun niat atau Prabowo Subianto untuk melecehkan jurnalis," kata Koordinator Media Center Prabowo Subianto, Budi Purnomo Karjodihardjo, di Jakarta, Jumat, terkait pemberitaan mengenai Prabowo Subianto di Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Menurut dia, esensi yang disampaikan oleh Prabowo adalah penilaian pribadi gejala umum yang sedang terjadi secara makro, bahwa korupsi banyak terjadi kepada warga Indonesia yang bukan warga biasa.

"Mereka adalah para pejabat, politikus, dan lain-lain. Bayangkan, manusia yang agung seperti Hakim Agung pun bisa disuap, Apalagi manusia biasa. Kita semua ini adalah manusia, termasuk wartawan juga manusia. Kita semua bisa kepleset. Itulah sebenarnya, pesan yang ingin disampaikan oleh Prabowo Subianto," paparnya.

Namun demikian, karena pernyataan tersebut menjadi kontroversi di kalangan jurnalis, maka dengan kerendahan hati yang sangat mendalam, pihaknya menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya.

"Sekali lagi kami sampaikan bahwa tidak ada sedikitpun niat untuk melecehkan jurnalis/wartawan," katanya.

Budi menambahkan, Justeru dirinya serius dan sungguh-sungguh mengharapkan dukungan wartawan untuk terus mendukung program anti korupsi dan program kesejahteraan serta program-grogram yang selama ini digelorakan oleh Prabowo Subianto.

"Kami sungguh-sungguh sangat prihatin oleh perilaku korupsi yang dilakukan oleh siapapun karena merugikan rakyat dan bangsa ini, dan menghambat realisasi kesejahteraan rakyat, yang dicita-citakan," katanya.

Dalam pemberitaan di media, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto tidak mempermasalahkan jika dirinya tidak masuk ke dalam survei calon presiden, yang digelar sejumlah lembaga menjelang Pemilu 2014.

Prabowo pun meminta warga untuk tidak mempercayai sejumlah media.

"Jangan percaya kadang-kadang apa yang disampaikan oleh media-media. Media-media itu manusia juga. Kalau Hakim Agung, kalau Hakim MK bisa disogok, apalagi wartawan, sama saja," katanya.*

(S037/E001)