Jakarta (ANTARA News) - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Jumat sore melemah 200 poin menjadi Rp11.055 dibanding Kamis (19/9) di posisi Rp10.855 per dolar AS.

"Penundaan `tapering` (pengurangan) stimulus oleh The Fed telah melepaskan tekanan rupiah dan pasar modal dari faktor eksternal, saat ini sudah jauh lebih mereda. Namun, bukan berarti rupiah akan serta merta menguat, diperkirakan rupiah masih akan berkonsolidasi," kata pengamat pasar uang PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong di Jakarta.

Menurut dia, nilai tukar rupiah baru akan dapat kembali ke area tren penguatan (bullish) apabila inflasi sudah mereda dan disertai dengan perbaikan pada neraca transaksi berjalan.

"Ada baiknya BI lebih berhati-hati oleh `uang panas` yang kembali berputar di pasar modal. BI mesti tetap konsisten melanjutkan pengetatan pada kebijakan keuangan dengan terus mengawasi inflasi dan menyesuaikan suku bunga apabila diperlukan," katanya.

Analis Pasar Uang Bank Mandiri, Rully Arya Wisnubroto menambahkan pelaku pasar keuangan kembali melihat sentimen di dalam negeri seperti neraca transaksi berjalan dan inflasi.

"Kemarin (19/9), rupiah menguat didorong sentimen eksternal setelah the Fed memutuskan untuk melanjutkan stimulus keuangannya, saat ini pelaku pasar kembali melihat domestik," kata dia.

Ia mengharapkan pemerintah dapat memperbaiki defisit neraca perdagangan Indonesia agar tidak semakin melebar.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari Jumat ini, tercatat mata uang rupiah melemah menjadi Rp11.352 dibanding sebelumnya di posisi Rp11.278 per dolar AS.
(KR-ZMF/N002)