Hati-hati peredaran uang palsu di Bali
4 September 2013 09:44 WIB
Petugas menunjukkan barang bukti berupa uang palsu (upal) dan tersangka ketika ungkap kasus di Mapolrestabes Surabaya, Jatim, Sabtu (3/3). Satreskrim Polrestabes Surabaya berhasil mengungkap sindikat pembuatan dan peredaran uang palsu antar provinsi, dengan mengamankan uang pecahan Rp100.000 sebanyak 1000 lembar. (FOTO ANTARA/M Risyal Hidayat) ()
Denpasar (ANTARA News) - Masyarakat diharapkan berhati-hati, karena peredaran uang kertas palsu di daerah pariwisata Bali selama triwulan II-2013 (April-Juni) mencapai 1.216 lembar, jauh lebih banyak jika dibandingkan pada triwulan sebelumnya yang tercatat hanya 925 lembar.
"Baik secara kualitas maupun kuantitas, penemuan uang kertas palsu di daerah pariwisata ini tahunnya berfluktuasi, dan tiga bulan terakhir itu melonjak dibandingkan sebelumnya," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah III Bali-Nusa Tenggara, Dwi Pranoto di Denpasar Rabu.
Bertambah banyaknya uang kertas palsu yang beredar di daerah ini diketahui berdasarkan temuan bank-bank atau laporan lembaga keuangan lainnya, namun tidak disebutkan berapa nilai dari seluruh lembar uang palsu tersebut.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa jumlah uang kertas Rp100.000 paling banyak dipalsukan atau mencapai 92,52 persen dari volume, disusul Rp50.000 dengan porsi 6,7 persen dan selebihnya pecahan Rp20.000 dan Rp5.000.
Bank Indonesia berupaya mempersempit ruang gerak peredaran uang palsu di daerah ini dengan melakukan sosialisasi secara berkelanjutan tentang ciri-ciri keaslian nilai uang rupiah kepada masyarakat.
Ia menuturkan, pihaknya intensif melakukan pengawasan dan penarikan uang palsu yang ditemukan, serta aktif memberikan sosialisasi. "Kami juga membentuk satuan kerja untuk memberantasnya," kata dia.
Pemalsuan uang merupakan kejahatan transnasional. Untuk itu, perlu adanya penindakan tegas dan penghimpunan data hingga mampu mendukung upaya Polri untuk memberantas dan menangkap pengedar yang bermunculan di Bali.
Masyarakat di daerah ini diharapkan selalu waspada terhadap uang kertas palsu yang beredar dengan jumlah dikhawatirkan bertambah banyak. Terutama para petugas pembayaran atau kasir agar lebih berhati-hati.
"Baik secara kualitas maupun kuantitas, penemuan uang kertas palsu di daerah pariwisata ini tahunnya berfluktuasi, dan tiga bulan terakhir itu melonjak dibandingkan sebelumnya," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah III Bali-Nusa Tenggara, Dwi Pranoto di Denpasar Rabu.
Bertambah banyaknya uang kertas palsu yang beredar di daerah ini diketahui berdasarkan temuan bank-bank atau laporan lembaga keuangan lainnya, namun tidak disebutkan berapa nilai dari seluruh lembar uang palsu tersebut.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa jumlah uang kertas Rp100.000 paling banyak dipalsukan atau mencapai 92,52 persen dari volume, disusul Rp50.000 dengan porsi 6,7 persen dan selebihnya pecahan Rp20.000 dan Rp5.000.
Bank Indonesia berupaya mempersempit ruang gerak peredaran uang palsu di daerah ini dengan melakukan sosialisasi secara berkelanjutan tentang ciri-ciri keaslian nilai uang rupiah kepada masyarakat.
Ia menuturkan, pihaknya intensif melakukan pengawasan dan penarikan uang palsu yang ditemukan, serta aktif memberikan sosialisasi. "Kami juga membentuk satuan kerja untuk memberantasnya," kata dia.
Pemalsuan uang merupakan kejahatan transnasional. Untuk itu, perlu adanya penindakan tegas dan penghimpunan data hingga mampu mendukung upaya Polri untuk memberantas dan menangkap pengedar yang bermunculan di Bali.
Masyarakat di daerah ini diharapkan selalu waspada terhadap uang kertas palsu yang beredar dengan jumlah dikhawatirkan bertambah banyak. Terutama para petugas pembayaran atau kasir agar lebih berhati-hati.
Pewarta: IK Sutika
Editor: AA Ariwibowo
Copyright © ANTARA 2013
Tags: