Palu (ANTARA News) - Suasana di Pelabuhan Pantoloan pada Kamis, 1 Agustus 2013 mulai pukul 08.00 WITA sudah cukup ramai dipadati masyarakat yang mau mudik Lebaran di kampung halaman mereka.

Hari ini merupakan jadwal terakhir dari kapal Pelni yang akan mengangkut para pemudik dari Sulawesi Tengah ke berbagai kota di Pulau Kalimantan, Sulawesi dan Jawa.

Sambil menunggu kedatangan KM Umsini, salah satu dari sejumlah kapal milik Pelni yang akan mengangkut para pemudik di Pelabuhan Pantoloan Palu, sebagian penumpang memanfaatkan waktu untuk berbelanja berbagai keperluan perjalanan mereka.

Selain membeli berbagai jenis makanan, buah-buahan, juga oleh-oleh yang terbuat dari kerajinan kayu hitam untuk mereka bawa pulang ke kampung halamannya.

Sugeng (54), salah seorang penumpang mengatakan, ia bersana keluarga istri dan tiga anaknya setiap dua tahun sekali dipastikan mudik.

"Dan setiap mudik selalu naik kapal laut karena merupakan transportasi paling murah," katanya.

Pria kelahiran Batu, Malang, Jawa Timur itu sudah sekitar 10 tahun berada dan bekerja di Sulteng sebagai petani di Desa Malonas, Kabupaten Donggala.

Kebetulan beberapa tahun lalu, ia bersama beberapa teman ikut program transmigrasi dan ditempatkan di desa tersebut.

Di sana, kata Sugeng selain menanam padi sawah, juga berkebun kakao dan buah-buahan seperti rambutan, jeruk manis dan duren.

Meski sibuk dengan pekerjaan, Sugeng mengatakan tetap menyempatkan diri untuk berlebaran bersama orang tua dan keluarganya di Batu Malang.

Karena itu, setiap dua tahun sekali mereka pulang agar bisa berkumpul merayakan Lebaran bersama kedua orang tua mereka.

"Mumpung orang tua saya dan istri masih panjang umur, kita selalu berusaha bisa mudik. Ini kesempatan yang baik untuk merayakan Lebaran bersama-sama dengan orang tua dan sanak saudara serta sahabat," katanya.

Ia mengaku tidak kesulitan mendapatkan tiket kapal laut. Membeli tiket kapal cukup mudah. "Saya membeli langsung di loket penjualan tiket di Kantor Pelni Cabang Palu, tanpa harus antre," katanya.

Meski hanya naik kapal laut, tetapi Sugeng cukup senang sebab masih diberikan kesehatan dan berkat dari Allah SWT untuk pakai mudik.

Hal senada juga disampaikan Jafar (43), seorang penumpang tujuan Balikpapan (Kalimantan Timur).

Lelaki yang bekerja di salah satu perusahaan swasta di Kota Palu itu juga memilih mudik Lebaran dengan menggunakan kapal laut karena harga tiket relatif murah dibandingkan pesawat terbang.

Bahkan, ia mengaku setiap Lebaran pulang ke Balikpapan agar bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarganya di sana.

Ayah dua putra itu mengatakan untuk mudik ke Balikpapan tidak susah karena setiap hari ada pesawat dan juga sekali seminggu ada kepal laut dan dalam dua hari seminggu ada kapal feri. "Jadi tinggal terserah kita mau naik apa," katanya.

Menurut dia, paling asyik mudik dengan kapal Pelni atau kapal feri karena bisa menikmati perjalanan indah sepanjang hari dan malam.

Lagi pula untuk ke Balikpapan baik naik kapal Pelni maupun kapal feri sama-sama hanya satu malam saja. Lagi pula naik kapal murah-meriah hanya Rp120 ribu harga tiket ekonomi.

Sementara kalau naik pesawat harus mengeluarkan biaya tiket tambah ongkos taksi dari bandara menuju rumah bisa mencapai Rp600 ribu.

"Ya, kalau orang-orang seperti kami ini hanya rakyat kecil, kalau laut merupakan pilihan paling tepat untuk mudik Lebaran," kata Jafar.

Normal

KM Umsini yang bertolak dari Pelabuhan Pantoloan menuju Tolitoli, Tarakan, Nunukan, Balikpapan, Pare-pare, Makassar dan Surabaya diberangkatkan pada Kamis pukul 11.00 WITA itu hanya mengangkut sekitar 400 penumpang.

Padahal, kapal mewah milik PT Pelni tersebut dapat mengangkut hingga 2.500 penumpang.

Kepala Pelni Cabang Palu, Agung Topo membenarkan jumlah penumpang yang mudik menggunakan jalur laut pada pemberangkatan hari ini yang merupakan terakhir kali sebelum Idul Fitri sepi-sepi saja.

"Ini di luar prediksi kami," katanya seraya menambahkan justru pada pemberangkatan KM Dorolonda 28 Juli 2013 penumpang cukup banyak.

Jumlah penumpang yang diberangkatkan dengan KM Dorolonda dengan tujuan Pantoloan-Balikpapan dean Surabaya pada (28/7) mencapai 1.940 orang.

Moda transportasi laut dalam beberapa tahun terakhir ini tidak lagi menjadi pilihan utama masyarakat.

Sekarang ini, katanya, kapal laut hanyalah sebagai alat transportasi alternatif bagi masyarakat.

"Kalau dahulu kapal laut sebagai pilihan utama masyarakat, kini pesawat terbang yang menjadi pilihan utama," katanya.

Berbagai faktor penyebab diantaranya harus diakui bahwa kapal-kapal Pelni terbilang merupakan kapal yang sudah tua. Selain itu, masyarakat lebih memilih naik pesawat meski harga tiketnya cukup mahal karena cepat tiba dibandingkan kapal laut berhari-hari.

Ia juga mengatakan hingga kini Pelni belum juga menaikkan harga tiket kapal laut meski BBM sudah naik sejak 19 Juli 2013. "Tiket yang dijual sekarang ini belum mengalami penyesuaian," katanya.

Ia mengatakan Pelni dalam menjual tiket masih mengacu pada standar harga tiket yang ditetapkan beberapa tahun lalu.

Misalkan, harga tiket KM Dorolonda untuk Pantoloan-Balikpapan tetap Rp120.000,00 per orang (kelas ekonomi).

Sama halnya dengan tiket ekonomi KM Umsini tujuan Pantoloan-Balikpapan Rp120.000,00 per orang. Sedangkan tiket Pantoloan-Surabaya Rp405.000,00 per orang.

Menurut dia, harga tiket kapal laut terbilang cukup murah dibandingkan pesawat yang mencapai hingga Rp1,5 juta untuk rute Palu-Surabaya.

Meski harga tiket kapal laut murah, tetapi tetap saja masyarakat lebih memilih naik pesawat.

Ia mengaku masyarakat yang bepergian dengan menggunakan kapal laut dalam beberapa tahun ini cenderung terus menurun dibandingkan era 1980-an.

Kalau dahulu orang berlomba-lomba mudik dengan kapal laut hingga Pelni kewalahan melayani penumpang yang membeli tiket, sekarang ini loket-loket Pelni baik di Kantor Pelni Cabang Palu maupun di pelabuhan sepi.

Meski semakin penumpang semakin berkurang, Pelni tetap mengoperasikan semua kapal guna melayani masyarakat kecil.

Meningkat

Sementara Kepala Dinas Perhubungan Sulteng, Hendro Surahmat mengatakan arus penumpang mudik Lebaran baik lewat jalur darat, laut dan udara dipastikan meningkat dibandingkan hari-hari biasa.

Untuk arus mudik Lebaran menggunakan pesawat peningkatan bisa sampai 100 persen. "Tapi arus mudik darat dan laut hanya meningkat antara 5-10 persen saja," katanya.

Ia menjamin dengan jumlah armada yang beroperasi saat ini baik kendaraan angkutan darat, kapal laut dan pesawat masih memadai.

Meski terjadi lonjakan arus mudik, tetapi masih dapat diatasi dengan ketersediaan alat transportasi di daerah ini yang jumlahnya cukup memadai.

Sekarang ini untuk kapal laut Pelni mengoperasikan dua armada yaitu KM Dorolonda dan KM Umsini. Untuk pesawat ada Lion air, Garuda, Sriwijaya Air,Merpati dan Exprres Air.

Begitu pula untuk angkutan darat, jumlah armada angkutan kota antarprovinsi, angkutan kota dalam provinsi (AKAP/AKDP), angkutan pedesaan, Damri dan juga mobil rental cukup banyak.

Khusus di Sulteng, arus mudik tidak sepadat seperti di kota-kota besar di Pulau Jawa, Sumatera dan Bali. Namun demikian tetap mendapat perhatian dan pengawasan serius dari pemerintah dan jajaran kepolisian setempat.

Hendro juga meneguhkan khusus angkutan laut bukan lagi menjadi pilihan utama masyarakat. Kalau pada beberapa tahun silam kapal laut memang menjadi pilihan utama rakyat untuk mudik, sekarang ini tidak lagi seperti itu.

Kalau dahulu orang yang naik kapal laut tidak mengenal kaya dan miskin, tetapi sekarang ini yang masih setia menggunakan kapal laut kebanyakan rakyat kecil.

"Jadi tidak salah kalau banyak orang mengatakan bahwa kapal laut adalah alat transportasi rakyat kecil, sebab kenyataan yang terjadi seperti itu," ujarnya.

(BK03/A035)