Tunis (ANTARA News) - Presiden Tunisia mengumumkan tiga hari masa berkabung untuk delapan tentara yang tewas dalam penyergapan yang dilakukan oleh gerilyawan, kata televisi negara.

Televisi Tunisia memotong program reguler dan siaran ayat-ayat suci Al Quran dilantunkan dan lagu-lagu patriotik dikumandangkan, demikian laporan Reuters.

Diumumkan pula bahwa Presiden Moncef Marzouki akan segera menyampaikan pidato nasional.

Menurut laporan-laporan, delapan prajurit Tunisia tewas dalam serangan gerilyawan di dekat perbatasan Aljazair, Senin.

Peristiwa itu tampaknya merupakan salah satu serangan terbesar terhadap pasukan keamanan di negara tersebut dalam beberapa dasawarsa ini.

Serangan itu terjadi di daerah terpencil Gunung Chaambi, dimana pasukan Tunisia melacak gerilyawan sejak Desember tahun lalu.

Pada Mei, tentara dan polisi Tunisia memburu lebih dari 30 tersangka gerilyawan terkait Al Qaida di dekat perbatasan negara itu dengan Aljazair, dan Presiden Moncef Marzouki pergi ke daerah itu untuk mengawasai operasi tersebut.

Tunisia semakin khawatir atas serangan-serangan yang dituduhkan pada gerilyawan garis keras bersenjata.

Menteri Dalam Negeri Lotfi Ben Jeddou kepada parlemen beberapa waktu lalu mengatakan, gerilyawan yang diburu oleh militer di perbatasan Tunisia dengan Aljazair adalah veteran perang Mali, dimana pasukan Prancis campur tangan untuk menumpas kelompok garis keras.

"Mereka datang dari Mali," kata menteri Tunisia itu selama sidang terbuka di majelis nasional, seperti dikutip AFP.

"Saya ingin sidang ini tertutup agar saya bisa mengatakan lebih banyak," katanya kepada para anggota parlemen, yang mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai perburuan terhadap dua kelompok gerilyawan yang bersembunyi di daerah perbatasan yang kata kementerian dalam negeri terkait dengan Al Qaida.


Penerjemah: Askan Krisna