Phnom Penh (ANTARA News) - Pemimpin oposisi Kamboja di pengasingan Sam Rainsy, Jumat, mendapat pengampunan dari raja, kata satu keputusan kerajaaan yang diperoleh kantor berita AFP.

Keputusan itu melapangkan jalan bagi Rainsy untuk pulang menjelang pemilihan umum.

Perdana Menteri Hun Sen yang memintakan pengampunan "dalam semangat rekonsiliasi", kata seorang pejabat pemerintah yang tidak bersedia namanya disebutkan, dan menambahkan Rainsy "tidak berhak" untuk ikut menjadi kandidat dalam pemilu 28 Juli.

Rainsy tinggal di pengasingan di Prancis dan menghadapi hukuman 11 tahun penjara jika ia kembali ke Kamboja setelah dihukum tanpa kehadirannya atas tuduhan-tuduhan termasuk menerbitkan satu "peta palsu" perbatasan dengan Vietnam.

Rainsy menulis surat kepada Raja Sihamoni, Juni, untuk meminta pengampunan, dan baru-baru ini mengatakan ia berikrar akan pulang, satu tindakan yang mendapat pujian dari partainya yang mendorong peluangnya dalam pemilu akhir bulan ini.

"Ia sedang bersiap pulang ke Kamboja dalam waktu sangat segera," kata seorang juru bicara oposisi Kamboja, Partai Keselamatan Nasional Kamboja, Yim Sovann kepada AFP.

Para anggota Kongres AS menyerukan negaranya mengurangi bantuan kepada Kamboja kecuali Hun Sen mengizinkan pemilu berlangsung bebas.

Hun Sen adalah salah satu dari para pemimpin paling lama berkuasa di Asia dan memimpin negara miskin itu dari puing-puing perang saudara dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui pembangunan turisme dan ekspor garmen.

Tetapi pemerintahannya secara reguler dituduh menindas kebebasan politik dan membungkam para aktivis. Pada Mei, Hun Sen mengatakan akan berusaha tetap berkuasa selama sepuluh tahun sampai ia berusia 74 tahun. Ia sebelumnya berikrar akan berkuasa sampai mencapai usia 90 tahun.


Penerjemah: Rafaat Nurdin