Balikpapan, Kalimantan Timur (ANTARA News) - Anggota Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) di Kota Balikpapan, Kaltim, ternyata tidak menjadi penerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM).

"Walau hidup kami memang pas-pasan, tapi kami bangga. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah," kata Wakil Ketua Pertuni Balikpapan, Muhammad Yasin, Jumat.

Yasin menegaskan, mereka yang tidak lagi bisa melihat itu tidak ingin mengemis meminta-minta diberikan dana BLSM, meski kondisi rata-rata mereka adalah orang yang tidak mampu.

"Kami hidup dari memberi jasa pijat. Tidak seberapa, tapi cukup bila disyukuri," kata Yasin lagi.

Menurut dia, karena keadaan mereka itu, anggota Pertuni sebetulnya sangat layak menerima BLSM. Namun, nyatanya tak ada seorang pun dari anggotanya yang masuk dalam daftar penerima bantuan kompensasi penaikan harga BBM tersebut.

Seminggu menjelang Ramadhan, pemerintah menaikkan harga premium bersubsidi dari Rp4.500 menjadi Rp6.500, dan solar dari Rp4.500 menjadi Rp5.500 perliter.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Balikpapan, Suryanto, mengakui, memang masih banyak penyaluran BLSM yang tidak tepat sasaran akibat data yang tidak akurat.

(KR-NVA/H-KWR)