Depok (ANTARA) - Ketua Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan (APIK) Indonesia Network, Dr. Mahawan Karuniasa mengatakan pengembangan energi baru terbarukan perlu ditingkatkan karena saat ini pemanfaatannya hanya 7 persen dari target 23 persen.

"Salah satu sumber energi bersih yang disebut berpotensi untuk dikembangkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)," kata Dr. Mahawan Karuniasa di Kampus UI Depok, Kamis.

Hal tersebut dikatakan Mahawan dalam simposium "Peluang dan Tantangan Pembangkit Listrik Tenaga Air di Indonesia" di UI.

Baca juga: Pebisnis energi terbarukan berbasis biomassa ingatkan pasokan

Baca juga: Pemuda harus berkolaborasi wujudkan transisi energi yang berkeadilan


Ia menjelaskan PLTA bekerja dengan cara mengubah energi potensial dari bendungan (dam) atau air terjun menjadi energi mekanik dengan bantuan turbin air dan dari energi mekanik menjadi energi listrik dengan bantuan generator.

Pengembangan PLTA di Indonesia bukan tanpa tantangan. Pembangunannya harus bermanfaat secara ekologi, menguntungkan secara ekonomi, dan diterima secara sosial.

Mahawan memaparkan beberapa poin yang harus diperhatikan saat membangun PLTA. Pertama, aliran dan ketersediaan air, terutama saat Indonesia dilanda cuaca ekstrem.

Pasokan dan aliran air harus diperhitungkan agar saat debit air tinggi bendungan tidak jebol dan saat musim kemarau bendungan tidak kering. Kedua, deforestasi atau penebangan hutan.

Sementara itu Direktur Sekolah Ilmu Lingkungan (SIL) Universitas Indonesia (UI), Dr. dr. Tri Edhi Budhi Soesilo, Indonesia berupaya mengurangi emisi karbon dengan menaikkan target Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC) menjadi 32 persen pada 2030.

"Langkah tersebut dilakukan agar Indonesia mencapai Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat. Berbagai upaya pun dilakukan untuk mencapai NZE, termasuk pengembangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan," katanya.

Ia mengatakan Indonesia dengan kondisi geografis yang menguntungkan memiliki potensi dan sumber energi bersih yang berlimpah, seperti panas bumi, tenaga surya, ataupun tenaga air.

"Percepatan peralihan energi bersih dapat memberikan tekanan kepada ekosistem, sehingga perlu dipertimbangkan dan direncanakan secara cermat agar perlindungan terhadap lingkungan menjadi perhatian utama," ujar Dr. Edhi.

Baca juga: PLN dan KLHK kolaborasi tingkatkan penggunaan energi terbarukan