Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Anak Konsultan RS Kanker Dharmais Jakarta Mururul Aisyi mengatakan tingginya data kanker pada anak di Indonesia berbanding lurus dengan peningkatan kesadaran orang tua untuk melakukan pemeriksaan atas penyakit ganas tersebut.

"Masyarakat, orang tua, sudah aware (sadar) bagaimana gejala dan tanda yang mengarah ke arah kanker pada anak, sehingga cepat melakukan pengobatan di pusat kesehatan di masing-masing daerah, dengan demikian semuanya terdata," katanya dalam siniar yang digelar di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat.

Ia mengatakan bahwa orang tua juga menyadari kalau kanker tidak pandang bulu, bukan hanya terjadi pada orang tua, melainkan juga bisa menyerang anak-anak.

Kondisi tersebut, ujarnya, berbeda dengan dahulu, di mana kanker anak tidak banyak frekuensinya yang disebabkan oleh underdiagnosis atau kegagalan untuk mengenali dengan benar suatu penyakit, khususnya kanker.

"Jadi belum sempat dibawa ke rumah sakit sudah meninggal atau dibawa ke tempat lain yang bukan kompetensinya sehingga didiagnosis lain," ucapnya.

Meningkatnya jumlah anak yang menderita kanker, menurutnya, juga dikarenakan terdapat sekitar lima persen dari jumlah bayi yang lahir mempunyai mutasi onkogen.

Ia menjelaskan bahwa onkogen bersifat seperti Macan yang masih tidur, sehingga ketika ada yang membangunkan maka onkogen itu akan menyerang. Onkogen pada sel kanker berperan dalam menginduksi proliferasi sel sehingga pembelahan sel menjadi tidak terkontrol.

"Nah yang membangunkan onkogen itu bermacam-macam, seperti infeksi, belum lama ini juga ada pandemi. Jadi kalau misalnya banyak anak-anak yang terpapar infeksi sekitar lima tahun itu akan ada banyak insiden kanker anak," ujarnya.

Baca juga: Pengidap kanker anak mungkin hadapi tantangan kesehatan saat dewasa
Baca juga: Dinkes Bogor imunisasi HPV anak perempuan cegah kanker serviks


Dirinya mengatakan bahwa secara umum, terdapat beberapa gejala yang muncul pada anak ketika mengalami kanker, diantaranya seperti pucat dan terjadi pendarahan serta nyeri pada tulang, munculnya benjolan atau pembengkakan yang tidak terasa nyeri dan tanpa demam atau adanya tanda infeksi yang lain.

Selain itu, terjadi penurunan berat badan pada anak, demam tanpa sebab yang jelas, batuk yang menetap atau sesak napas dan berkeringat di malam hari, adanya perubahan yang terjadi pada mata seperti terlihat manik putih atau juling.

Kemudian, lanjutnya, hilangnya penglihatan dan memar atau bengkak pada sekitar mata, perut membuncit, serta sakit kepala yang menetap atau berat.

"Ketika menemukan tanda-tanda itu pada anak segera periksa ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat," ucapnya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Agensi Internasional untuk Riset Kanker (IARC) memperkirakan bahwa terdapat 8.677 anak Indonesia berusia nol sampai dengan 14 tahun menderita kanker pada tahun 2020.

Jumlah tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan negara lainnya di Asia Tenggara.

Baca juga: WHO: 350.000 anak terdiagnosa kanker setiap tahun
Baca juga: Kenali gejala kanker darah Multiple Myeloma