Bekasi (ANTARA News) - Pedagang nasi uduk di Kota Bekasi, Jawa Barat, mengeluhkan kenaikan harga jengkol--semula Rp20.000 per kilogram menjadi Rp60.000/kg--karena khawatir sepi pembeli bila menaikkan harga semur jengkol.

"Kenaikannya sampai 200 persen. Mau tidak mau saya harus menyesuaikan harga jual karena nasi uduk saya terkenal dengan lauk jengkolnya," ujar pedagang nasi uduk di Jalan Mayor Oking, Bekasi Timur, Mustofa (50), di Bekasi, Kamis.

Pria yang akrab dengan panggilan Bang Bule itu mengaku tidak dapat berhenti memproduksi semur jengkol seiring dengan melambungnya harga jengkol di pasaran.

"Kalau nasi uduk lain mungkin tidak membuat semur karena jengkol mahal. Saya tidak begitu karena takut pelanggan pergi," katanya.

Menurut dia, jengkol yang biasa diperolehnya dari Pasar Baru, Bekasi Timur, harganya saat ini mencapai Rp60 ribu per kilogram dari harga normal Rp20 ribu per kilogram.

Dikatakan Mustofa, nasi uduk buatannya terkenal dengan cita rasa yang khas dari semur jengkol, sayur soun, juga kikil dan acar timun.

"Menu itu sudah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk sebagian pelanggan," katanya.

Mustofa mengaku biasa memproduksi sedikitnya 5 kilogram jengkol untuk disemur setiap kali berjualan.

"Dahulu beli jengkol cukup dengan modal Rp100 ribu, tapi sekarang minimal Rp300 ribu," katanya.

Sementara itu, Tien (55) pelanggan Nasi Uduk Bang Bule mengaku tidak keberatan dengan kenaikan harga semur jengkol sebesar Rp1.000 per porsi.

"Saya suka jengkolnya karena legit, lembut, dan tanpa menyisakan rasa pahit di lidah ataupun aroma menyengat. Teksturnya juga empuk dengan rasa manis gurih. Jadi, harganya naik tidak jadi masalah buat saya," katanya.

(KR-AFR/D007)