Beijing (ANTARA) - Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra atau Forum Belt and Road for International Cooperation (BRI) dinilai dapat membangkitkan kembali komunikasi antarperadaban.

BRI "memanfaatkan pengalaman dan keunggulan kompetitif China yang tak tertandingi dalam membangun infrastruktur, seperti jalur kereta, jalan raya, pelabuhan, bandara, pembangkit listrik, dan telekomunikasi," ujar Robert Kuhn, seorang pakar dari AS yang menulis buku "How China's Leaders Think", dilansir Xinhua pada Selasa.

BRI lebih dari sekedar infrastruktur. Ini adalah solusi China untuk masalah pembangunan global, demikian ungkap Buku Putih tentang pembangunan BRI. Kesenjangan perdamaian, pembangunan, dan tata kelola saat ini menjadi tantangan yang menakutkan bagi umat manusia, sehingga memberikan kesempatan bagi BRI untuk mengambil peran.

Bagi Presiden China Xi Jinping, China tidak dapat berkembang jika terisolasi dari dunia, dunia juga membutuhkan China untuk pembangunannya.

"Usulan Xi mengenai BRI utamanya didorong oleh keinginannya untuk berbagi pengalaman pembangunan China dengan seluruh dunia," kata Direktur Institut Hubungan Internasional di Universitas Renmin Wang Yiwei.

Seperti yang dikatakan Xi, mewujudkan BRI "tidak dimaksudkan untuk membuang waktu dalam menciptakan sesuatu yang sudah ada." Sebaliknya, BRI bertujuan untuk melengkapi strategi pembangunan negara-negara yang terlibat dengan memanfaatkan kekuatan komparatif mereka. "BRI yang saya usulkan bertujuan untuk mencapai pembangunan bersama dan saling menguntungkan," kata Xi.

Membangkitkan Komunikasi
Xi Jinping pada 1972 (Xinhua)


Penduduk desa di Liangjiahe masih ingat bagaimana Xi membawa dua koper penuh dengan buku-buku saat dia tiba di desa tersebut pada 1969.

Xi sangat suka membaca, yang merupakan kebiasaan dalam kesehariannya. Dia pernah berjalan sejauh 15 kilometer untuk meminjam salinan Faust, karya oleh penulis Jerman Johann Wolfgang von Goethe.

​​​​​​Membentang ribuan mil dan tahun, rute jalur sutra kuno lebih dari sekadar rute perdagangan. Peredaran barang mendorong terjadinya komunikasi budaya.

​​​​​​Rombongan karavan, pelancong, cendekiawan, dan perajin melakukan perjalanan antara Timur dan Barat sebagai utusan budaya. Jalur-jalur yang ramai tersebut menghubungkan tempat-tempat lahirnya peradaban seperti Mesir, Babilonia, India, dan China, serta negeri dari sejumlah agama besar.

"Membaca menyegarkan pikiran saya, menginspirasi saya, dan memupuk kekuatan moral saya," kata Xi.

Bahkan setelah menjabat sebagai pemimpin tertinggi, dia masih tetap membaca meskipun memiliki jadwal yang padat dan juga mendorong para pejabat pemerintah untuk membaca.

Kebiasaan membaca tersebut memberikan Xi pengetahuan yang kaya akan sejarah dan budaya dari Timur dan Barat, serta menjadi sumber inspirasi bagi pemikirannya mengenai pembangunan global.

Pada 9 September 2013, ketika mengunjungi Museum Amir Timur di Tashkent, Uzbekistan, dalam tur Asia Tengah pertamanya sebagai presiden China, Xi terkesan dengan peta Jalur Sutra kuno.

Xi menunjuk ke sebuah lokasi di peta itu, mengidentifikasinya sebagai Xi'an, kota kampung halamannya sekaligus titik awal Jalur Sutra. Kota ini, yang sebelumnya dikenal sebagai Chang'an, adalah tempat kelahiran peradaban dan bangsa China yang penting.

Lebih dari 2.100 tahun silam, Zhang Qian, seorang utusan kerajaan dari Dinasti Han, melakukan perjalanan yang berani ke arah barat dari Chang'an. Petualangannya membuka pintu pertukaran komersial dan budaya antara China dan Asia Tengah serta membantu merintis Jalur Sutra yang menghubungkan Timur dan Barat.

Saat berbagi kisah tersebut dengan para hadirin di Universitas Nazarbayev di Kazakhstan pada 2013, Xi berkata, "Hari ini, ketika saya berdiri di sini dan merenungi sejarah, saya seperti mendengar lonceng unta bergema di pegunungan dan melihat gumpalan asap yang membubung tinggi dari padang pasir."


Membentang ribuan mil dan tahun, rute jalur sutra kuno lebih dari sekadar rute perdagangan. Peredaran barang mendorong terjadinya komunikasi budaya.

Rombongan karavan, pelancong, cendekiawan, dan perajin melakukan perjalanan antara Timur dan Barat sebagai utusan budaya.

Jalur-jalur yang ramai tersebut menghubungkan tempat-tempat lahirnya peradaban seperti Mesir, Babilonia, India, dan China, serta negeri dari sejumlah agama besar

Peninggalan yang tak terhitung jumlahnya yang ditemukan di sepanjang rute kuno tersebut, termasuk "ulat sutera perunggu berlapis emas" berusia ribuan tahun yang dipamerkan di Museum Sejarah Shaanxi, China, dan bangkai kapal Belitung yang ditemukan di Indonesia, merupakan perwujudan dari semangat Jalur Sutra, yang mendorong perdamaian dan kerja sama, keterbukaan dan inklusivitas, saling belajar dan keuntungan bersama.