Jenewa (ANTARA) - WHO pada Jumat mengatakan otoritas kesehatan setempat di Gaza sudah menginformasikan bahwa mustahil mengungsikan pasien rumah sakit yang rentan dari Gaza utara setelah militer Israel memerintahkan warga sipil pindah ke selatan Gaza dalam waktu 24 jam.

"Ada orang-orang yang sakit parah dan cederanya membuat satu-satunya peluang mereka agar bertahan hidup adalah dengan menggunakan alat bantu hidup, seperti ventilator mekanis," kata Juru Bicara WHO Tarik Jasarevic.

"Untuk itu, memindahkan orang-orang tersebut sama artinya menghukum mati. Meminta petugas kesehatan agar melakukan hal itu adalah perbuatan yang kejam sekali," lanjutnya.

WHO yang sudah memperingatkan bahwa rumah sakit-rumah sakit di Jalur Gaza pada saat ini telah berada pada titik kritis, mengatakan bahwa rumah sakit-rumah sakit di selatan Jalur Gaza sudah penuh sesak, sementara dua rumah sakit besar di Gaza utara sudah melebihi kapasitas totalnya, 760 tempat tidur.

"Rumah sakit hanya dialiri listrik beberapa jam setiap hari karena mereka terpaksa menjatah cadangan bahan bakar yang kian menipis dan tergantung kepada generator untuk mempertahankan fungsi vitalnya. Dan fungsi-fungsi tersebut malah harus dihentikan dalam beberapa hari ketika stok bahan bakar menipis," kata Jasarevic.
​​​​​​​Baca juga: 12 Staf PBB tewas dalam serangan udara Israel ke Jalur Gaza

Jasarevic menyebut hal ini bakal berdampak buruk terhadap orang-orang yang terluka yang memerlukan operasi, pasien yang berada dalam unit perawatan intensif, dan bayi baru lahir yang tergantung kepada inkubator.

Jalur Gaza juga mengalami kekurangan bank darah rumah sakit dan obat-obatan, kata WHO.

"Waktu semakin tipis dalam mencegah bencana kemanusiaan, jika bahan bakar, air, makanan dan pasokan kesehatan dan kemanusiaan yang menyelamatkan nyawa tidak dapat segera dikirim ke Jalur Gaza akibat blokade total ini," kata Jasarevic.

Baca juga: Israel seru warga sipil Palestina tinggalkan Gaza dalam waktu 24 jam
Baca juga: Israel bersiap serbu Gaza, Menlu AS temui Raja Yordania


Sumber: Reuters