Seoul (ANTARA) - Pejabat Korea Utara pada Selasa mengatakan satelit mata-mata militer negaranya adalah "pilihan strategis yang sangat diperlukan" untuk melawan Amerika Serikat yang "sangat ingin melakukan militerisasi luar angkasa".

Setelah dua kali gagal meluncurkan satelit mata-mata militer, yang diberi nama Malligyoung-1 serta dipasang di roket Chollima-1 pada Mei dan Agustus, Korut mengumumkan rencana peluncuran ketiga pada Oktober tanpa merinci tanggal pasti peluncuran itu.

“Pengembangan ruang angkasa termasuk satelit pengintaian militer merupakan pilihan strategis yang sangat diperlukan untuk menjamin kepentingan keamanan dan hak keberadaan DPRK,” sebut Ri Song-jin, peneliti Administrasi Teknologi Dirgantara Nasional Korut dalam sebuah artikel berbahasa Inggris yang dimuat oleh Kantor Berita Pusat Korea.
Baca juga: G-7 kecam keras aksi Korut luncurkan satelit pakai rudal balistik

DPRK adalah singkatan resmi Korea Utara yaitu Republik Rakyat Demokratik Korea.

Song-jin mengatakan Korut akan memperkuat "kemampuan pertahanan dirinya" di tengah apa yang disebut para pejabat sebagai "ancaman militer dan skema agresi AS dan pasukan bawahannya yang terus meningkat di semua bidang termasuk luar angkasa."

Satelit mata-mata militer adalah salah satu senjata berteknologi tinggi, yang Korut berjanji akan mengembangkannya.

Senjata teknologi tinggi lainnya yang dikembangkan Korut termasuk rudal balistik antar benua berbahan bakar padat serta kapal selam bertenaga nuklir.

Baca juga: Kapal perang China lakukan pencarian puing satelit Korut dekat Korsel
Baca juga: Korsel berhasil ambil puing-puing roket Korut yang gagal diluncurkan
Baca juga: Jepang masih siagakan pertahanan rudal balistiknya


Sumber: Yonhap-OANA