Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengungkapkan pihaknya menyiapkan tiga strategi untuk meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) usai penutupan kawasan itu selama 13 hari.

“Kalau dari langkah strategis ada tiga, mengenai penegakan hukum sesuai ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, monitoring dan evaluasi berkala mengenai penerapan standard operating procedure (SOP) serta memperketat pengawasan di lapangan,” ujar Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf Agustini Rahayu dalam The Weekly Brief with Sandi Uno yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin.

Selain itu, pihaknya juga menyiapkan program sosialisasi untuk memotivasi wisatawan agar bertanggung jawab terhadap lingkungan destinasi wisata yang dikunjungi.

“Karena destinasi Indonesia berbasis alam, terbentuknya lama, kerugian segitu besar. Sayang ya kalau tidak dibantu oleh semua pelaku wisata termasuk wisatawan,” paparnya.

Adapun berdasarkan hasil kajian Kemenparekraf, kebakaran yang terjadi di di Blok Savana Lembah Watangan, atau Bukit Telletubies, TNBTS, Jawa Timur mengakibatkan terjadinya kerugian negara sebesar Rp89,7 miliar. Hal itu berdasarkan perhitungan setelah kawasan Gunung Bromo ditutup selama 13 hari pascakebakaran yang terjadi pada Rabu (6/9) lalu.

“Jumlah potential loss (kerugian) sektor pariwisata selama 13 hari penutupan Taman Nasional Bromo adalah Rp89,76 miliar,” ujar Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Kemenparekraf, Nia Niscaya.

Nia menyebutkan ada dua dimensi yang dihitung Kemenparekraf, yakni akibat tidak adanya pemasukan dari sisi tiket dan kerugian yang timbul dari sisi pengeluaran.

Lebih lanjut, ia mengatakan dalam satu hari, kawasan wisata yang masuk dalam daftar 10 destinasi pariwisata prioritas ini menghasilkan pemasukan sebesar Rp121 juta, sementara untuk pengeluaran wisatawan per hari diperkirakan mencapai Rp6,7 miliar.

“Maka 13 hari potential loss sebesar Rp1,5 miliar. Tepatnya Rp1.577.989.515. Total loss spending selama itu sekitar Rp89.184.139.737 itu dari pengeluaran,” paparnya.

Perhitungan itu, ungkapnya, didapatkan berdasarkan empat variabel yang terdiri dari jumlah kunjungan atau kuota kunjungan wisatawan per hari, harga tiket baik wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus), biaya pengeluaran ketika wisatawan berkunjung serta durasi penutupan TNBTS berlangsung.


Baca juga: PHRI catat penutupan Bromo tidak ganggu kunjungan wisata Kota Malang
Baca juga: Pemulihan ekosistem Bromo akibat kebakaran butuh waktu hingga 5 tahun