Jakarta (ANTARA) - Kelompok tari saman dari Sekolah Indonesia Singapura mewakili pertunjukan seni budaya Indonesia dan memeriahkan acara budaya Ignite Integrate Shape (IIS) yang diadakan di Claymore Connect di Orchad Road Singapura pada Kamis (14/9).

"Acara ini menjadi penanda bahwa budaya Indonesia juga menjadi elemen penting dalam dinamika masyarakat Singapura," kata Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa penuh Indonesia untuk Singapura Suryo Pratomo dalam sambutannya, sebagaimana rilis pers yang diterima di Jakarta, Kamis.

Dubes Suryo menyatakan kebanggaannya terhadap penampilan seni budaya Indonesia yang menjadi pembuka acara IIS.

Ia mengatakan bahwa Singapura secara geografis dan sosio historis menjadi tempat membaurnya beragam budaya Asia, terutama India, China dan melayu. Tiga etnis tersebut menjadi pilar keberagaman masyarakat Singapura.

Untuk itu, ia menilai kontribusi masyarakat Indonesia terhadap kemajemukan di Singapura menjadi sangat penting.

“Ada sekitar 250 ribu warga negara Indonesia di Singapura dengan membawa keberagaman budayanya masing-masing. Artinya kontribusi masyarakat Indonesia dalam kemajemukan Singapura juga sangat penting," katanya.

Penyelenggaraan IIS didukung oleh Kementerian Kebudayaan, Komunitas dan Pemuda Singapura serta Dewan Integrasi Nasional dan diselenggarakan oleh Asosiasi Bisnis Indonesia-Singapura dan the Young SEAkers Singapura.

Acara itu disebutkan akan berlangsung selama satu bulan penuh hingga 30 september 2023.

Sementara itu, kelompok tari saman SIS disebutkan menjadi bagian penting dari perjalanan Sekolah Indonesia Singapura karena regenerasi penarinya dilakukan secara otodidak oleh para siswa kepada adik-adik kelasnya.

Mereka telah tampil di beragam acara nasional hingga internasional yang digelar oleh pemerintah Singapura.

"Anak-anak SIS berlatih serius setiap minggu untuk memastikan semua gerak dalam tarian ini dilakukan secara benar," kata Kepala Sekolah Indonesia Singapura Yenny Dwi Maria.

Kelompok tersebut terdiri dari dua grup, grup senior dan junior yang tampil bergantian dan melakukan proses regenerasi sekaligus melatih adik-adik kelas mereka secara simultan.

Penampilan tari saman SIS tersebut juga dinilai menjadi penguat eksistensi SIS di Singapura. "Selain menjadi ruang akademik, SIS juga menjadi duta budaya Indonesia di Singapura,” kata Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Singapura IGAK Satrya Wibawa.

Kekuatan budaya itu dinilai menjadi salah satu daya tarik SIS bagi sekolah lokal untuk menjadi sister school atau mitra kolaborasi, misalnya dengan Victoria School, Raffles Institute, Dulwich International School dan beberapa sekolah lainnya.

“Saat ini juga akan dilaksanakan penguatan aspek kebudayaan dengan pelatihan beberapa tari tradisional untuk anak-anak SIS mulai pada kelas satu SD," kata Satrya menambahkan.

Baca juga: Indonesia dan Singapura perkuat kerja sama riset dan ekonomi digital
Baca juga: BI mulai uji coba pembayaran QR Code antara Indonesia dengan Singapura