“STEM sangat relevan untuk kebangsaan dan kenegaraan kita di masa depan,” kata Gita dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), diikuti secara daring di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan, produksi karya ilmiah sangat mempengaruhi nilai jual Indonesia di mata dunia, sedangkan saat ini, jumlah ilmuwan yang merepresentasikan Indonesia di luar negeri di bidang STEM masih sangat sedikit.
“Berdasarkan data dari Perpustakaan Nasional, buku-buku yang dipinjamkan itu topik yang paling terkenal adalah terkait ilmu-ilmu sosial, sebesar 32 persen dari buku-buku yang dipinjamkan, lalu topik-topik tentang hukum 32 persen, kemudian ekonomi 32 persen, sedangkan buku-buku terkait ilmu terapan hanya 0,5 persen dari total buku-buku yang dipinjamkan ke masyarakat luas yang mau membaca,” ujar dia.
Padahal, menurutnya, ilmu-ilmu di bidang STEM mampu mendukung industrialisasi yang kini sangat dilirik oleh negara-negara maju, juga sistem geopolitik yang kini menganut sistem bilateral, dimana pendekatan-pendekatan kebijakan yang berdasarkan pendekatan sains akan lebih diperhitungkan.
“Indonesia tidak ada di radar dunia dalam konteks memproduksi produk-produk pendidikan yang bisa diakui di Amerika Serikat. Di tahun 2018, produksi S3 di ilmu STEM Tiongkok itu 6.182, India 2.040, sedangkan Indonesia hanya 82, di bawah Ghana, yang meskipun negara kecil, dia sudah bisa memproduksi jumlah S3 dengan ilmu STEM sebanyak 103,” paparnya.
Untuk menghasilkan ilmuwan di bidang STEM yang mampu bersaing, Gita menyampaikan bahwa pemerintah perlu menemukan titik temu yang tepat antara talenta dan kekuasaan (talent and power) berdasarkan sistem meritokrasi, yakni sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan sekadar patronase (hak istimewa) dan loyalitas belaka.
“Untuk bisa menciptakan kesempatan demi kepentingan industrialisasi ke depan, maka penting untuk meningkatkan prasarana riset dan pengembangan agar komunitas ilmuwan lebih keren ke depan. Ini juga tidak bisa terjadi tanpa penempatan titik temu yang tepat antara talenta dengan kekuasaan, dan seleksi talenta berbasis meritokrasi,” ucap dia.
Ia melanjutkan, untuk bisa memproduksi ilmuwan yang piawai dalam ilmu STEM, Indonesia juga harus mampu membuat para ilmuwan ini menjadi pendongeng atau storytellers handal, yang bisa menceritakan dan membuat kesinambungan yang tepat antara kebutuhan inovasi di Indonesia dengan apa yang saat ini juga sedang dibutuhkan oleh dunia.
Baca juga: Menkeu: Indonesia fokus investasi di pendidikan demi permudah akses