Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan kepemilikan senjata nuklir akan melindungi Rusia dari berbagai ancaman keamanan, dan Moskow terus mengingatkan Barat tentang berbagai risiko agar konflik antar kekuatan nuklir bisa dicegah.

"Memiliki senjata nuklir untuk saat ini merupakan satu-satunya tanggapan terhadap ancaman keamanan nasional eksternal yang signifikan," kata Lavrov dalam wawancara dengan majalah milik negara, The International Affairs, yang dirilis di situs Kemlu Rusia, Sabtu.

Dia mengatakan bahwa perkembangan di dalam dan sekitar Ukraina menjadi salah satu alasan kekhawatiran Rusia.

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) –sebuah organisasi yang telah menyatakan diri sebagai aliansi nuklir– telah melanggar prinsip keamanan yang berfokus pada “kekalahan strategis” Rusia, kata Lavrov.

Negara-negara Barat terus memasok senjata ke Ukraina, yang sedang berupaya merebut kembali wilayahnya yang telah dianeksasi Rusia sejak invasi militer pada Februari 2022.

Lavrov mengatakan ada risiko Amerika Serikat dan negara-negara NATO terlibat dalam bentrokan bersenjata langsung antara kekuatan-kekuatan nuklir.

Namun, dia menyebut para pemimpin dari lima kekuatan nuklir telah menegaskan kembali pentingnya mencegah konfrontasi militer antara kekuatan nuklir dalam pernyataan bersama pada 3 Januari 2022.

Menurut NPT (Traktat Nonproliferasi Nuklir), lima negara pemilik senjata nuklir terdiri atas Rusia, AS, Prancis, Inggris, dan China.

"Kami berpikir bahwa (konfrontasi nuklir) ini dapat dan harus dicegah. Inilah mengapa kami harus mengingatkan semua orang tentang risiko militer dan politik yang sangat besar dan mengirimkan sinyal serius kepada lawan-lawan kami," katanya.

Sumber: Reuters, The International Affairs

Baca juga: Rusia siap tandatangani traktat bebas nuklir dengan syarat

Baca juga: Rusia lengkapi kapal selam nuklir baru dengan rudal hipersonik Zircon


Rusia gelar latihan kekuatan nuklir strategis skala besar