Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) semakin memperketat pengawasan pelaksanaan ujian nasional (UN) 2013, khususnya terhadap kemungkinan "serangan fajar".

"Untuk mengawasi jeda waktu pada pagi hari SOP (standar operasional prosedur) dibuat sangat ketat. Contohnya dalam salah satu SOP bahwa sebelum ujian, pengawas menunjukkan kepada seluruh siswa bahwa amplop lembar soal dan jawaban masih disegel," kata Irjen Kemdikbud Haryono Umar di Jakarta, Jumat.

Ia meyakinkan akan semakin kecil kemungkinan terjadinya serangan fajar pada pelaksanaan UN dengan menempatkan tim di setiap sekolah.

Haryono pun berharap solidnya kerja sama berbagai pihak untuk mengawasi dan melaporkan jika ada penyimpangan pada pelaksanaan ujian nasional.

Sementara itu, Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan Indonesia Moehammad Aman Wirakartakusumah mengatakan, berdasarkan pengalaman ujian nasional sebelumnya, kebocoran terjadi pada soal ujian yang didistribusikan terlebih dahulu ke daerah-daerah terpencil.

"Pengiriman ke daerah terpencil itu memakan waktu lama, di sanalah biasanya soal ujian `masuk angin`. Akan tetapi, dengan sistem 20 varian soal ujian, diyakini akan mampu mengurangi kebocoran," ujar dia.

Untuk mengatasi "serangan fajar", dia mengatakan bahwa pengawasan dilakukan lebih pagi dan jeda waktu sebelum ujian dimulai dengan pengiriman soal ujian akan ke sekolah akan dipersempit.

Hal tersebut, menurut dia, juga untuk menghalangi kemungkinan adanya "tim sukses" yang mengerjakan soal dan menyebarkan kunci jawaban di satu sekolah dapat bekerja.

"Jika dulu sering ada serangan fajar, misalnya, ujian pukul 8.00 pagi dan pukul 5.00 pagi soal sudah diambil, padahal jarak sekolah dekat sehingga terdapat waktu dua jam sebelum ujian dimulai karena sering terjadi kebocoran. Sekarang diawasi sejak awal sehingga niat-niat tidak baik dapat ditekan dengan sistem yang baik," ujar dia.