Singapura (ANTARA) - Dolar terpukul lebih rendah lagi di awal sesi Asia pada Kamis pagi, karena para pedagang secara mengejutkan menganggap inflasi AS yang lambat sebagai sinyal bahwa kenaikan suku bunga AS akan berakhir pada akhir bulan.

Dolar mengalami sesi terburuk dalam lima bulan semalam, jatuh lebih dari 1,0 persen terhadap euro ke level terendah dalam lebih dari setahun dan membukukan kerugian yang lebih besar terhadap mata uang lain.

Euro mencapai tertinggi baru 15 bulan di 1,1141 dolar pada awal perdagangan Asia dan yen naik 0,3 persen pada 138,16 per dolar, terkuat sejak pertengahan Mei. Indeks dolar AS turun sedikit ke 100,47, terendah sejak April 2022.

Dolar Selandia Baru mencapai tertinggi dua bulan di 0,6309 dolar AS dan Aussie mencapai puncak tiga minggu di 0,6796 dolar AS.

Pergerakannya kecil, namun menunjukkan keyakinan pedagang bahwa dolar akan terus turun. Yuan menyentuh level tertinggi satu bulan di 7,1604 terhadap dolar dalam perdagangan luar negeri. Sterling dan franc Swiss sedang menguji tertinggi semalam.

Inflasi inti AS mencapai 0,2 persen pada Juni dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 0,3 persen. IHK (indeks harga konsumen) tahunan utama turun menjadi 3,0 persen dan telah menurun sejak mencapai puncaknya di 9,6 persen setahun sebelumnya.

Baca juga: Dolar jatuh ke terendah lebih dari satu tahun setelah inflasi melambat

Baca juga: Rubel stabil terhadap dolar, indeks MOEX tertinggi baru pascainvasi


"Kenaikan IHK yang terlalu besar semakin berkurang, dan rangkaian data inflasi baru-baru ini sangat jinak," kata Steve Englander, kepala penelitian mata uang G10 global di Standard Chartered.

"Kami, dan semakin banyak pasar, meragukan The Fed akan menaikkan lagi setelah pertemuan 26 Juli," katanya.

"Kami pikir kinerja buruk dolar baru-baru ini mencerminkan pergeseran kualitatif dalam kenyamanan pasar dengan menjadi short dolar karena kebijakan suku bunga terminal Fed terlihat semakin dibatasi."

Suku bunga berjangka menunjukkan pasar telah sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga Federal Reserve akhir bulan ini, tetapi ekspektasi kenaikan lebih lanjut dibatalkan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS dua tahun, yang mengikuti ekspektasi suku bunga, turun lebih dari 15 basis poin semalam menjadi 4,73 persen.

Di Skandinavia, di mana inflasi terlihat kuat dan para bankir sentral memproyeksikan kenaikan suku bunga lebih lanjut, mata uangnya melonjak, dengan krona Swedia dan Norwegia naik lebih dari 2,0 persen dan mengincar kenaikan sekitar 5,0 persen untuk minggu ini.

Di Asia, yen naik 4,8 persen terhadap dolar dalam lima hari perdagangan dan hampir sama pada persilangan utama lainnya karena short-selling telah dihapus dan fokus pasar beralih ke apakah Bank Sentral Jepang (BoJ) akan segera mengubah kebijakan kontrol imbal hasil.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang naik ke tertinggi multi-bulan pada Rabu (12/7/2023), meskipun imbal hasil 10-tahun yang diawasi ketat tetap di 0,46 persen, nyaman di bawah batas BoJ 0,5 persen, menunjukkan hanya spekulasi moderat tentang perubahan kebijakan.

Sterling duduk di 1,2994 dolar, tepat di bawah tertinggi semalam di 1,3001 dolar. Franc Swiss, yang mencapai level tertinggi sejak 2015 semalam, diperdagangkan tepat di bawah level itu di 0,8661 franc terhadap dolar.

Data perdagangan China akan dirilis pada Kamis, bersama dengan risalah dari pertemuan Bank Sentral Eropa bulan lalu, data produksi industri Eropa serta PDB bulanan Inggris.

Baca juga: Dolar merosot di Asia jelang data inflasi AS, yen dan sterling menguat

Baca juga: Dolar jatuh di Asia jelang data inflasi AS, pound di puncak 15 bulan