PBB, New York (ANTARA News)- Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Rabu (6/3), mengutuk penahanan prajurit pemelihara perdamaian PBB oleh anasir bersenjata di Dataran Tinggi Golan.

"Sekretaris Jenderal mengutuk penahanan 21 prajurit pemelihara perdamaian Pasukan Pengamat Pemisahan PBB (UNDOF) oleh anasir bersenjata di sekitar Al Jamla di daerah pembatasan dan menyerukan pembebasan mereka secepatnya," demikian isi pernyataan yang dikeluarkan oleh juru bicara ban, lapor Xinhua.

Dewan Keamanan PBB membentuk UNDOF pada Mei 1974, setelah pertempuran antara Israel dan Suriah di Wilayah Dataran Tinggi Golan. UNDOF memegang mandat untuk memelihara gencatan senjata antara kedua pihak, dan memantau pelaksanaan Kesepakatan Pemisahan Pasukan --yang ditandatangani oleh kedua pihak serta menyerukan pembentukan satu daerah pemisah dan daerah pasukan terbatas serta persenjataan antara kedua pihak.

Menurut beberapa laporan, satu kelompok lebih dari 20 prajurit pemelihara perdamaian UNDOF ditahan oleh anasir bersenjata yang memiliki hubungan dengan oposisi Suriah pada Rabu pagi di dalam daerah pembatasan di Dataran Tinggi Golan di wilayah Suriah.

Di dalam pernyataannya, pemimpin PBB itu mengingatkan semua pelaku di Suriah bahwa UNDOF diberi mandat untuk memantau Kesepakatan Pemisahan Pasukan antara Israel dan Suriah.

"Kebebasan bergerak UNDOF dan keselamatan serta keamanan harus dihormati oleh semua pihak," kata pernyataan tersebut, sebagaimana dikutip Xinhua.

Menurut Vitaly Churkin, Duta Besar Rusia di PBB --yang memangku jabatan bergilir presiden Dewan Keamanan untuk Maret dan membacakan pernyataan pers mengenai peristiwa pada Rabu pagi itu, "ada tuntutan" yang diajukan oleh para penangkap.

Churkin juga mengatakan pembicaraan sudah diadakan antara para pejabat PBB dari pasukan pemelihara perdamaian dan orang yang menangkap prajurit PBB tersebut. (C003)