Surabaya (ANTARA) - Kota Surabaya terus berbenah. Saat ini, Ibu Kota Provinsi Jawa Timur itu layak menyejajarkan atau disejajarkan diri dengan kota layak anak (KLA) di dunia.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan layanan yang ramah pada anak terus diperkuat sehingga kota itu masuk sebagai anggota "Child-Friendly City Initiative" (CFCI) atau "Kota Sahabat Anak tingkat Dunia" yang dibentuk Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-bangsa atau "United Nation Childrens Fund" (Unicef).

Kota Surabaya juga sedang menuju predikat sebagai KLA paripurna dari penilaian Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Republik Indonesia. Selama ini, Surabaya sudah sering mendapatkan predikat sebagai KLA tingkat utama dan tahun ini mengejar KLA tingkat paripurna.

Pada pertengahan Juni 2023, tim juri Kementerian PPPA RI sudah menilai berbagai kota dan kabupaten, salah satunya Kota Surabaya.

Tim penilai dari Kementerian PPPA belum lama ini, mengaku takjub dengan pencapaian Kota Pahlawan itu. Ketakjuban muncul saat melihat ada Rumah Anak Prestasi yang digunakan sebagai wadah anak-anak disabilitas Kota Surabaya berkreasi dan mengungkapkan ekspresinya.

Tim juri sempat surprise karena Surabaya dinilai merupakan satu-satunya kota di Indonesia membuat Rumah Anak Prestasi, rumah yang didirikan untuk anak-anak yang memiliki kelebihan.

Selain itu, kesiapan dalam menyambut Kota Surabaya sebagai KLA predikat paripurna adalah dengan menyiapkan layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) di balai rukun warga (RW). Alasan membangun Balai RW secara serentak di Surabaya adalah untuk menyiapkan pelayanan Puspaga.

Bahkan, Menteri PPPA RI I Gusti Ayu Bintang Darmawati sempat menyampaikan bahwa pencapaian Surabaya sudah melampaui daerah-daerah lain di Indonesia.

Kriteria KLA Paripurna adalah bagaimana menjadikan sebuah kota betul-betul menjadi wilayah yang nyaman untuk anak. Ketika anak-anak merasa nyaman, di kemudian hari akan bermunculan generasi-generasi dan pemimpin yang lahir dari anak dan pemuda asal kota itu.

Untuk menuju Surabaya KLA Paripurna tidak hanya berbicara soal Rumah Anak Prestasi dan Puspaga di Balai RW. Agar lebih siap menyandang predikat KLA paripurna, saat ini juga diterapkan Peraturan Wali Kota (Perwali) serta Peraturan Daerah (Perda) terkait Kota Layak Anak.

Peraturan tersebut, adalah Perda Nomor 3 Tahun 2023 tentang Perubahan Perda Penyelenggaraan Perlindungan Anak. Selain itu juga ada Perwali Nomor 08 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif, Perwali Nomor 110 Tahun 2021 tentang Kawasan tanpa Rokok, hingga Perwali Nomor 52 Tahun 2022 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Kota Surabaya.

Kota bersejarah kepahlawanan itu juga sudah punya Forum Anak Surabaya (FAS). Lewat forum itu, Pemkot Surabaya selalu menampilkan kemampuan anak-anak, baik di luar maupun di dalam gedung.

Bicara soal anak sangatlah kompleks. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya terus berusaha semaksimal mungkin meningkatkan fasilitas dan meminimalisir adanya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Dalam mewujudkan Surabaya KLA paripurna, Surabaya juga menggunakan konsep Kampung Madani. Ketika konsep Kampung Madani itu diterapkan, harapannya anak-anak di Surabaya akan menjadi sejahtera dan menjadi kekuatan besar di masa mendatang.

Dalam upaya untuk menyiapkan pemimpin masa depan itu, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, melainkan perlu dukungan semua pihak. Orang tua, sekolah, dan semua elemen masyarakat harus menjadi bagian dari menciptakan pemimpin di masa mendatang.


Naik kelas

Sebagai kota kedua terbesar di Indonesia, Unicef merasa perlu mendukung terus upaya pemerintah dan warga Surabaya dalam meningkatkan kesejahteraan anak-anak. Pada tahun 2020, sekitar 56 persen dari populasi dunia atau sekitar 4,4 miliar orang tinggal di daerah perkotaan, dimana 1,18 miliar di antaranya adalah anak-anak. Angka tersebut akan meningkat menjadi 70 persen pada tahun 2050-an.

Kepala Perwakilan Unicef Wilayah Jawa Tubagus Arie Rukmantara pada peringatan HUT ke-730 Surabaya, 31 Mei 2023, mendorong agar Surabaya yang sudah berkali-kali mendapat predikat sebagai Kota Layak Utama dari Kementerian PPPA dapat diterima menjadi anggota CFCI atau Kota Sahabat Anak tingkat Dunia.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan dua orang perwakilan anak Surabaya yang tergabung dalam Forum Anak Surabaya (FAS), yakni Neezara Syarifah Alfarizi dan Achmad Hilmy Syarifudin, dinobatkan menjadi narasumber di "The 10th Asia - Pasifik Forum for Sustainable Development" pada 28 Maret 2023.

Forum internasional tersebut dihadiri oleh perwakilan kota-kota besar lain di Asia Pasifik, seperti Shenzen (China), Petaling Jaya (Malaysia), Naga City (Filipina) dan kota-kota lain di Asia Pasifik.

Acara yang bertajuk "Child Friendly Cities to Accelerate Recovery in East - Asia and The Pacific" ini membahas Kota Surabaya sebagai pusat peluang dan kemajuan ekonomi dan secara bersamaan membahas urban paradox, yaitu situasi meningkatnya ketidaksetaraan bagi anak-anak perkotaan.

Maka dari itu, sangat penting Surabaya, sebagai calon anggota CFCI, menunjukkan cara mengantisipasi masa depan perkotaan agar tetap sayang, peduli dan melindungi semua anak-anaknya secara berkelanjutan. Surabaya bukan hanya harus naik kelas dengan menjadi CFCI, tapi juga harus bekerja keras menjadi juara kelas.

Kemajuan perlindungan anak di daerah perkotaan akan menjadi kunci dalam mencapai Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan.

Unicef mengapresiasi upaya revisi Peraturan Daerah Sistem Pelayanan Perlindungan Anak, Surat Edaran Wali Kota tentang Pelibatan Anak dalam Musrenbang di setiap tingkat RW dan Kelurahan, promosi Desa Ramah Perempuan dan Anak, Peningkatan Kapasitas Forum Anak Surabaya (FAS) dan Organisasi Pelajar Surabaya (Orpes).

Bahkan, juga digelar pelatihan-pelatihan disiplin positif anti-perundungan atau penindasan, termasuk dan terutama pencegahan kekerasan secara daring.


Internet dan anak

Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) baru-baru ini merilis laporan Profil Pengguna Internet 2022. Dalam laporan tersebut, APJII mengungkapkan penetrasi internet Indonesia mencapai 77,02 persen pada 2021-2022.

Berdasarkan usia, penetrasi internet tertinggi berada di kelompok usia 13-18 tahun. Hampir seluruhnya (99,16 persen) kelompok usia tersebut terhubung ke internet.

Untuk itu, semua pihak selayaknya berkolaborasi bersama dalam upaya pencegahan kekerasan anak secara daring maupun luring.

Selain melihat bahwa anak-anak sekarang sudah banyak yang melek digital, perlu diperhatikan pula adanya risiko penggunaan internet di kalangan anak.

Budaya mengakses Internet memberikan kesempatan tanpa batas kepada anak-anak dan remaja untuk mengakses informasi, budaya, komunikasi, dan hiburan yang dapat memicu kreativitas mereka dan memperluas wawasan mereka.

Peluang ini juga datang dengan risiko serius. Untuk itu, semua pihak, seperti di ruang pengasuh, komunitas, guru, platform digital, dan pemerintah menjadikan keamanan daring bagi anak-anak sebagai prioritas perhatian.

Khusus untuk Surabaya, kita perlu mengajak semua anak dan warga agar menerapkan sistem perlindungan anak dalam dunia maya, dengan saling mengawasi satu sama lain. Orang tua menjaga anak, anak menjaga anak, termasuk anak menjaga orang dewasa, sehingga semua saling menjaga.

Dengan semua upaya itu, semua berpartisipasi menjadikan Surabaya kota yang layak, aman, dan nyaman bagi anak-anak.