Jakarta (ANTARA) - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan lima tantangan yang harus diselesaikan dalam upaya pengembangan hilirisasi komoditas aluminium di dalam negeri.

Dalam pengukuhan Asosiasi Gabungan Industri Aluminium Indonesia (Galunesia) di Jakarta, Rabu, Menperin menyebut kelima tantangan itu adalah ketersediaan infrastruktur dan energi baik itu berupa jalan, pelabuhan dan listrik di luar Pulau Jawa, terutama untuk mendukung kegiatan smelter.

Kedua, dari aspek sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung kegiatan smelter. Ketiga, riset yang membutuhkan aspek teknologi dan modal dan keempat, tantangan dari sisi logistik.

"Yang kelima, tantangan dari sisi eksternal dalam bentuk resistensi dari pihak luar negeri terhadap kebijakan hilirisasi," kata Menperin dalam keterangan di Jakarta, Rabu.

Menperin menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menggenjot hilirisasi industri berbasis pengolahan sumber daya mineral logam, termasuk aluminium.

"Aluminium merupakan salah satu sumber daya mineral logam yang menjadi fokus kebijakan hilirisasi ini. Komoditas logam andalan Indonesia ini memiliki potensi pasar domestik yang mencapai satu juta ton," imbuhnya.

Baca juga: Menperin: inovasi jadi kunci pengembangan elektrifikasi kendaraan

Baca juga: Menperin minta Toyota segera garap pasar Australia


Sayangnya, meski pasarnya besar dan potensial, saat ini PT Inalum baru bisa menyediakan sebesar 250 ribu ton aluminium sehingga pasarnya begitu terbuka untuk digarap.

"Sehingga, masih terdapat room to grow yang sangat besar bagi investor untuk memenuhi kebutuhan aluminium nasional," tambahnya.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (kedua kiri) didampingi oleh Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier (kiri) mengukuhkan Asosiasi Gabungan Industri Aluminium Indonesia (Galunesia) di Jakarta, Rabu (14/6/2023). (ANTARA/HO Kementerian Perindustrian)

Menperin mengatakan salah satu langkah untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut adalah dengan melakukan sinergi dengan berbagai pihak terkait, termasuk dengan para pelaku industri yang tergabung dalam asosiasi.

Oleh karena itu, Menperin mengharapkan kehadiran Galunesia dapat menjadi energi baru untuk menjawab setiap tantangan hilirisasi nasional.

Pendirian Galunesia sendiri juga didorong dan diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin.

Asosiasi tersebut akan menjadi bagian dari pemangku kepentingan yang dapat mewujudkan langkah untuk meneruskan kembali rantai industri aluminium nasional.

"Kami mengharapkan Galunesia dapat meningkatkan komunikasi antara angggotanya dan antara anggota dengan pemerintah, serta memperkuat data yang saat ini menjadi kunci keberhasilan di sektor apapun. Semoga Galunesia dapat menjadi mitra pemerintah dengan memberi masukan yang mampu memperkuat kebijakan dalam hilirisasi berbasis bauksit, dalam hal ini aluminium,” kata Menperin.

Sementara itu, Ketua Umum Galunesia Oktavianus Tarigan menyampaikan asosiasi sangat mendukung upaya pemerintah dalam memaksimalkan industri aluminium.

Menurutnya, potensi rantai nilai aluminium sangat besar, termasuk untuk mendukung pengembangan ekosistem electric vehicle (EV) yang dicanangkan oleh pemerintah. Begitu pula dengan penerapan green energy yang sangat membutuhkan aluminium ke depan.

"Dari hulu ke hilir akan disinergikan bagi seluruh stakeholder," ujar Oktavianus yang juga menjabat SEVP Pengembangan Bisnis PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero).

Baca juga: Menperin lepas ekspor perdana mobil hybrid Toyota

Baca juga: Menperin: butuh waktu ubah kultur masyarakat soal kendaraan listrik