Lombok Barat (ANTARA) - Tim genjot ekspor Nusa Tenggara Barat (NTB) melepas pengiriman sebanyak satu ton vanili organik kering produksi petani lokal yang sudah memenuhi persyaratan ke Amerika Serikat.

Pelepasan ekspor vanili tersebut dilakukan oleh Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah, bersama Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I A Mataram Arinaung, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi NTB Achmad Fauzi, dan Pemilik UD Rempah Organik Lombok, Muhir, di Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat, Kamis.

"Hari ini ekspor perdana vanili organik kering sebanyak satu ton. Ini bagian dari rencana ekspor sebanyak tujuh sampai delapan ton ke Amerika Serikat pada tahun ini," kata Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I A Mataram Arinaung.

Ia menyebutkan ekspor vanili organik ke Amerika Serikat yang dilakukan oleh Muhir selaku pemilik UD Rempah Organik Lombok terus meningkat setiap tahunnya karena permintaan yang relatif tinggi.

Misalnya, pada 2020 volume ekspornya sebanyak 1,4 ton senilai Rp3 miliar. Jumlah tersebut meningkat menjadi 2,45 ton pada 2021 dengan nilai jual mencapai Rp4,5 miliar. Volume ekspor kembali meningkat pada 2022, yakni mencapai 3,5 ton senilai Rp5,13 miliar.

"Tahun ini diperkirakan volume ekspor akan jauh meningkat, bisa mencapai tujuh hingga delapan ton hingga akhir tahun," ujarnya.

Namun, menurut Arinaung, meningkatnya volume ekspor vanili masih dihadapkan pada permasalahan produksi yang masih relatif rendah dan kualitas vanili yang masih terus perlu ditingkatkan.

"Yang menjadi pekerjaan rumah (PR) kita adalah upaya mendorong peningkatan produksi dan kualitas. Salah satu yang kita rasakan saat ini pendampingan petani kita tentang budi daya penanganan penyakit dan pascapanen," ucapnya.

Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah juga menegaskan agar jangan sampai menanam vanili seperti euforia atau ikut-ikutan, tapi kemudian tidak terarah.

"Ini menjadi PR yang harus disikapi bersama. Tapi saya yakin kalau kebersamaan dan kegotongroyongan yang sudah dibangun selama ini bisa terus terpelihara, insya Allah NTB akan lebih besar lagi kedepannya. Dan kita butuh sosok seperti pak Muhir yang mau bekerja bersama petani dan mau besar bersama," katanya.

Sementara itu, Kepala Deputi Perwakilan BI Provinsi NTB, Achmad Fauzi, mengatakan pihaknya juga melakukan intervensi secara end to end untuk klaster-klaster binaan, termasuk klaster vanili organik untuk tujuan ekspor.

Kantor Perwakilan BI Provinsi NTB menggarap klaster vanili organik mulai dari hilir dengan memberikan pelatihan dan mendatangkan tenaga ahli untuk mengajarkan petani. Sedangkan dari sisi hilir membantu penanganan dan pengolahan pascapanen serta mencarikan peluang pasar di berbagai negara.

"Kami juga membantu peralatan dan bekerjasama dengan Pak Muhir terkait klaster mana saja yang mendukung Pak Muhir yang harus diberikan intervensi, baik pelatihan maupun peralatan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas," ujarnya.

Baca juga: Koperasi desa sukses ekspor produk vanili ke berbagai negara

Baca juga: Vanili kering Poso tembus pasar ekspor, tujuan utama Prancis