Sydney (ANTARA) - Saham Asia kehilangan keuntungan awal pada Selasa, karena pasar khawatir bahwa kesepakatan untuk menangguhkan plafon utang AS akan menimbulkan konsekuensi negatif.

Paket itu masih harus disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang dikendalikan Republik dan Senat yang dikendalikan Demokrat sebelum batas utang tercapai, kemungkinan Senin depan (5/6/2023).

"AS memiliki resolusi yang buruk untuk negosiasi pagu utang dengan masih ada peningkatan besar dalam utang pemerintah dan tidak ada pemotongan nyata untuk pengeluaran, tetapi (itu) telah mengurangi tekanan untuk saat ini," kata James Rosenberg, penasihat broker Ord Minnett di Sydney.

"Masih ada keterputusan besar antara pasar obligasi dan ekuitas. Pasar obligasi menyiratkan ada kemungkinan ekstrem 70 persen pada resesi AS di tahun depan. Sinyal ini sangat kontras dengan pasar ekuitas yang tangguh."

Indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang melemah 0,02 persen pada Selasa, setelah saham AS ditutup pada Senin (29/5/2023) untuk liburan Memorial Day. Indeks telah tergelincir 1,3 persen sejauh bulan ini.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 berakhir turun 0,11 persen, sementara indeks saham Nikkei ditutup menguat 0,30 persen, setelah indeks acuan Jepang itu mencapai level tertinggi 33 tahun karena optimisme atas kesepakatan utang AS dan pelemahan yen, yang membantu eksportir negara itu.

Indeks Hang Seng Hong Kong ditutup naik 0,34 persen, setelah mencatat penurunan baru-baru ini ke level terendah baru tahun ini. Indeks saham unggulan China CSI300 berakhir naik 0,10 persen.

Hang Seng kehilangan 7,2 persen selama Mei, sementara CSI300 tergelincir 5,5 persen sebagai akibat ekonomi China tidak pulih dari penutupan pandemi yang berakhir pada Januari secepat yang diharapkan.

"Semua orang melihat kekecewaan dalam kinerja ekuitas China baru-baru ini dan itu sekarang menciptakan sentimen negatif investor," kata Jack Siu, kepala investasi China di Credit Suisse.

"Investor sekarang lebih diredam terhadap kisah pembukaan kembali China dan sedang mempertimbangkan posisi mereka."

Dalam perdagangan Asia, obligasi pemerintah AS yang bertenor lebih panjang menguat pada Selasa karena pedagang obligasi menyambut baik kesepakatan untuk menangguhkan batas pinjaman Washington hingga Januari 2025 dengan imbalan pembatasan pengeluaran dan pemotongan program pemerintah.

Meskipun tanggapan awal positif, investor mengatakan pasar belum keluar dari kesulitan. Margin yang sempit di Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat berarti orang-orang moderat dari kedua belah pihak harus mendukung RUU itu agar disahkan.

Imbal hasil acuan obligasi 10-tahun turun 6 basis poin selama perdagangan Asia menjadi 3,7616 persen, sementara imbal hasil tiga puluh tahun turun 6,3 basis poin menjadi 3,9134 persen.

Dengan kesepakatan utang menuju ke Kongres untuk persetujuan, analis JB Were mengatakan mungkin ada penerbitan tagihan senilai 600 miliar dalam enam sampai delapan minggu ke depan.

Ukuran penerbitan surat utang pemerintah dan implikasi ekonomi sekarang sedang dipertimbangkan, menurut ahli strategi global Asia Pasifik Invesco David Chao.

"Krisis perbankan regional baru-baru ini di AS ditambah dengan penerbitan surat utang pemerintah cenderung memperketat kondisi likuiditas," kata Chao.

"Pengumuman kesepakatan utang dalam waktu dekat adalah dorongan untuk sentimen pasar tetapi memberikan tekanan pada pertumbuhan karena pemotongan pengeluaran pemerintah, kondisi likuiditas yang lebih ketat, tetapi sisi sebaliknya adalah tekanan pada pekerjaan Fed ketika mencoba untuk mendinginkan perekonomian. Hal itu dapat memberikan efek peredam pada inflasi."

Pan-region Euro Stoxx 50 berjangka naik 0,14 persen, DAX berjangka Jerman naik 0,09 persen sementara FTSE berjangka turun 0,08 persen. Saham berjangka AS, e-mini S&P 500 naik 0,23 persen.

Dolar turun 0,03 persen pada Selasa terhadap yen menjadi 140,4, tepat di bawah tertinggi tahun ini di 140,91 yang dicapai pada Senin (29/5/2023).

Euro naik 0,1 persen pada 1,0702 dolar, setelah kehilangan 2,89 persen dalam sebulan, sementara indeks dolar, yang melacak greenback terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang utama lainnya, turun ke 104,41, hanya sedikit di bawah tertinggi dua bulan. Dolar juga diperdagangkan mendekati puncak enam bulan terhadap yuan China.


Baca juga: Saham Asia sebagian besar dibuka menguat karena kesepakatan utang AS
Baca juga: IHSG melemah di tengah penguatan mayoritas bursa kawasan Asia
Baca juga: Saham di Asia dibuka naik ditopang kesepakatan plafon utang Amerika