Samarinda (ANTARA) - Komunitas Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) Samarinda, Kalimantan Timur, menyebut terdapat 61 spesies tumbuhan yang hidup di jalur hijau SKM, baik yang tumbuh secara alami maupun yang ditanam oleh warga peduli sungai.

"Semua spesies tersebut hingga kini masih terus kami jaga dan kami rawat, sementara jumlahnya total sekitar 10 ribu pohon, terutama di sekitar Sekolah Sungai di kawasan Muang, Kelurahan Lempake, Kecamatan Samarinda Utara," ujar Koordinator Lapangan GMSS-SKM Samarinda Bachtiar di Samarinda, Kamis.

Sebagian besar tumbuhan yang mulai ditanam sejak 2015 tersebut merupakan tanaman lokal yang sebelumnya memang tumbuh sempadan SKM, seperti pohon bungur, kademba, rengas, putat, ulin, meranti, singkuang, jabon, jabon merah, bayur, manitri, kabuau, rumbia, bamban, dan ramania.

Ada juga pohon buah yang ditanam di kawasan itu yang sebagian besar sudah berbuah seperti nangka, nangkadak, anona, mangga, durian elai, jambu biji, jambu mete, sirsak, rambutan, jengkol, kelapa, maja, petai, kulur, sukun, dan lainnya.

Baca juga: KLHK verifikasi ke Samarinda untuk nominasi Kalpataru

Baca juga: Budayawan Kaltim dukung kampanye ramah sungai


Menurut Bachtiar, pihaknya bersama warga yang peduli sungai tajin menanam aneka spesies pohon di jalur hijau SKM, karena ingin membentuk hutan di tengah Kota Samarinda, karena ruang terbuka hijau di Samarinda masih minim.

Selain itu, pihaknya juga ingin air di SKM menjadi bersih karena dengan banyaknya pohon yang tumbuh, maka secara alami akar pohon akan menahan dan menyaring air hujan sebelum dialirkan ke sungai, bahkan pohon juga mampu mencegah abrasi.

Keberadaan pohon yang ditanam dan seiring dengan buah-buahan yang dihasilkan, katanya, telah mampu mengembalikan aneka satwa, burung, dan hewan yang sempat hilang, sehingga saat berbagai hewan tersebut sering terlihat di jalur hijau SKM.

"Aneka burung tersebut antara lain punai dahan, punai tanah, tekukur, pentet, bubut, kuntul, jalak, burak-burak, bangau, ketilang, ketinjau, serindit, dan burung hantu. Di jalur hijau ini juga ada monyet, kera, dan bekantan. Semua ini harus kita lindungi, maka jangan ada yang mengganggu mereka dan jangan merusak pohon yang sudah ditanam, apalagi menebang," ujar Bachtiar yang akrab disapa Iyau ini.*

Baca juga: Pencemaran Sungai Karang Mumus Samarinda berkurang 30 persen

Baca juga: DAS Karang Mumus dirawat ratusan mahasiswa Untag Samarinda