Jakarta (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan bahwa kandungan asam amino yang ada di dalam ikan bisa membantu anak-anak tumbuh sehat dan terhindar dari dampak buruk stunting.


“Konsumsi ikan-ikan yang tidak bersisik seperti lele dan belut itu sangat baik untuk anak kita. Ikan punya kandungan asam amino, itu sangat berguna bagi pertumbuhan otak anak,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa.


Dalam kunjungannya ke Balai Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulonprogo, Jawa Tengah pada Minggu (30/4), Hasto menuturkan stunting merupakan masalah yang penting untuk ditangani secara serius karena anak stunting pada saat dewasa tidak akan memiliki produktivitas yang tinggi, kemampuan intelektualnya rendah, dan mudah terkena penyakit.


Semakin banyak penduduk usia produktif yang mengalami stunting saat usia balita, dikhawatirkan akan menempatkan negara dalam posisi rugi akibat kualitas penduduknya yang rendah.


Oleh karenanya melalui konsumsi ikan sebagai salah satu makanan yang memiliki protein hewani tinggi yang dikonsumsi oleh anak-anak utamanya pada masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), tumbuh kembang intelektualitasnya bisa berkembang secara maksimal dan lebih baik.

Baca juga: BKKBN: Hari Nelayan Nasional momentum lakukan revolusi pola makan ikan

Baca juga: BKKBN: TPK bantu pengelolaan DAK protein hewani guna atasi stunting



“Sebab setelah 24 bulan ubun-ubun tertutup, pertumbuhan volume otak akan bertambah dalam jumlah yang sangat sedikit. Maka periode emas itu harus dimaksimalkan agar terbebas dari stunting,” katanya.


Tercukupinya kebutuhan asam amino, juga bisa menunjang pertumbuhan tulang rawan, otot dan kerangka anak lebih optimal.


Selain ikan, kebutuhan asupan protein hewani juga bisa diberikan melalui telur secara rutin sebanyak dua butir per hari. Dengan harganya yang murah dan mudah didapat, protein yang terkandung dalam putih telur bisa langsung diserap dalam sistem pencernaan anak.


Tentunya, bila dimasak dalam keadaan matang penuh seperti direbus. Selain protein hewani, asupan gizi seimbang tetap harus dilakukan seperti mengkonsumsi sayur, buah, dan susu.


Kepala Dinas Kesehatan Sri Budi Utami menambahkan pengentasan stunting di daerah Kulonprogo amat terbantu oleh para mitra yang tergabung dalam program Bapak Asuh Anak Stunting (BAAS).


Misalnya PT Welthek Healthin Indonesia yang memberikan bantuan telur dua butir per hari selama enam bulan atau setiap dua minggu anak berisiko stunting akan menerima 30 butir telur yang harus habis dikonsumsi kepada 51 anak stunting di wilayah Hargowilis dan sekitarnya.

Baca juga: BKKBN anjurkan makanan tambahan posyandu gunakan protein hewani

Baca juga: BKKBN-Kemenparekraf teken MOU ciptakan produk protein cegah stunting