Jakarta (ANTARA) - Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan pembentukan subholding kelapa sawit PalmCo dari Holding PT Perkebunan Nusantara (PTPN) dalam proses permohonan izin penyusunan peraturan pemerintah (PP).

"Untuk kelapa sawit sekarang kita sedang proses permohonan izin penyusunan PP pembentukan Palm Co," ujar Erick Thohir dalam Rapat Kerja bersama Komisi VI DPR RI yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin.

Erick juga berharap pada kuartal keempat tahun ini bisa melakukan aksi korporasi terkait PalmCo.

Baca juga: Industri pariwisata Bali komit pakai produk minyak sawit berkelanjutan

"Tentu tujuannya adalah tidak lain kalau kita melihat sekarang turunan daripada industri kelapa sawit sudah sampai 80 pohon industri. Cerita sukses ini bisa kita lihat juga berpengaruh pada turunan industrinya dan juga pengembangan daripada industri-industri pendukung untuk menjaga kestabilan ekonomi nasional," katanya.

Salah satu contohnya untuk bahan baku kosmetik atau make up, di mana saat ini Indonesia merupakan pangsa industri make up terbesar kelima di dunia.

"Namun, kalau kita melihat turunan daripada cerita suksesnya ini sekarang 70 persen industri make up semua produknya dalam negeri, dan kita bisa mampu melakukan hal tersebut karena harga bahan bakunya sudah kita miliki. Di sinilah kenapa kita dorong hal-hal ini kita mau konsolidasikan," ujar Erick.

Terkait dengan minyak goreng, dia mengatakan bahwa bagaimana kalau PalmCo ini dibutuhkan suatu hari nanti maka pemerintah atau BUMN bisa melakukan intervensi.

"Tetapi saat ini kita tidak memiliki kemampuan tersebut karena lahan daripada perkebunan kelapa sawit (BUMN) hanya tiga persen, sehingga kalau kita bicara turunan minyak goreng pun kita tidak memiliki kapabilitas untuk menentukan operasi pasar," katanya.

PalmCo, lanjut Erick, diharapkan dapat mengonsolidasikan sampai dengan sekitar 700 ribu hektar lahan daripada konsolidasi yang ada di bawah PTPN Grup.

"Ini juga bisa menjadi perusahaan kelapa sawit terbesar. Inilah kenapa kita ingin mendorong daripada kelapa sawit yang ada di PTPN," katanya.

Sebelumnya, PTPN berharap proyeksi perolehan dari rencana IPO PalmCo tersebut dapat mencapai antara Rp5 triliun - Rp10 triliun.

Pembentukan PalmCo bertujuan agar BUMN berperan lebih besar secara nasional dalam usaha kelapa sawit dan turunannya. Selain itu, Indonesia memiliki potensi crude palm oil (CPO) kelapa sawit mencapai 52 juta ton CPO per tahun dengan 40 persen kepemilikan petani kecil. Potensi yang besar untuk hilirisasi dan industrialisasi pemanfaatan CPO harus dilakukan.

Baca juga: Menko Airlangga terus akselerasi peremajaan sawit rakyat