Jakarta (ANTARA) - Dokter Kandungan dari RSIA Tambak Jakarta Fita Maulina menyatakan bahwa kesehatan pria bisa menjadi salah satu faktor pasangan terpaksa memutuskan melakukan childfree atau memilih untuk tidak mempunyai anak.

“Kalau orang awam mendengar childfree itu biasa langsung negative thinking. Padahal, banyak pasangan tidak menginginkannya, tapi ada keterbatasan lain yang tidak bisa diungkapkan,” kata Fita dalam Waktu Indonesia Berencana (WIB) BKKBN yang disiarkan di Jakarta, Jumat.

Fita menuturkan fenomena childfree sudah ada sejak lama dan memang sudah banyak dijalankan oleh masyarakat di luar negeri. Di Indonesia, beberapa figur publik mulai mengikuti hal serupa. Namun, dikarenakan masih cukup asing pada masyarakat, banyak pihak menilai bahwa keputusan tersebut diambil hanya berdasarkan kondisi perempuan saja.

Baca juga: Psikolog: "Childfree" adalah sebuah pilihan

Baca juga: Psikolog ungkap alasan pasangan memilih untuk "childfree"


Sebenarnya, keputusan memilih childfree merupakan keputusan dari kedua belah pihak karena sebuah faktor tertentu dan biasanya bersifat privasi. Salah satunya adalah terkait dengan kondisi kesehatan pria.

Dalam beberapa kasus, ada pasangan yang memutuskan childfree, karena pihak pria yang menginginkannya akibat memiliki riwayat penyakit keturunan seperti down syndrome, ada riwayat kejang atau ayan.

Biasanya hal itu disebabkan pria enggan penyakit mengenai sang anak dan mempengaruhi kepribadian maupun tumbuhkembangnya. Kemudian, ditemukan pula kasus dimana ada pria yang setelah dilakukan analisis sperma, tidak bisa mengeluarkan sperma meski bisa berhubungan seks atau kondisi perempuannya normal.

Kasus lain yang Fita beberkan terjadi pada pasangan yang berusia di atas 40 tahun dan baru menikah. Setelah melangsungkan pemeriksaan kesehatan bersama dokter kandungan, pasangan itu baru mengetahui jika kualitas sperma di usianya itu tidak sebaik ketika di usia muda.

Sehingga, beberapa pasangan memilih childfree, dibandingkan harus memaksakan untuk memiliki anak atau memberikan risiko lebih besar pada kesehatan ibu dan anak yang akan dikandung.

“Sebenarnya usia ideal untuk menikah dalam kedokteran itu 25 sampai 35 tahun, karena dianggap organ reproduksi seseorang sudah sempurna. Ini juga sejalan dengan imbauan Kemenkes dan BKKBN untuk usia menikah idealnya minimal 21 tahun bagi perempuan dan minimal 25 bagi laki-laki,” katanya.

Fita menambahkan ada juga faktor di luar genetik yang menyebabkan pasangan memilih childfree. Misalnya, karena sang pria pernah mengalami kecelakaan, yang mengenai organ vitalnya dan mempengaruhi produksi sperma.

Baca juga: BKKBN nilai fenomena "childfree" di Indonesia belum mengkhawatirkan

Baca juga: Ini dampak hingga risiko biologis memilih "childfree"


Bisa pula karena adanya pembengkakan pada pembuluh vena yang ada dalam buah zakar pria (varikokel), yang menyebabkan kualitas spermanya sangat buruk atau bahkan tidak keluar.

Oleh karenanya, Fita meminta masyarakat untuk tidak langsung menghakimi seseorang jika mengambil keputusan childfree. Sebab, penyebabnya cukup sensitif untuk dibahas karena bisa membuka aib keluarga.

Hal lain yang ia minta pada pasangan adalah mulai membiasakan diri memeriksakan kesehatannya, ketika sudah merencanakan untuk memiliki anak dan berkonsultasi jika memilih childfree. Dengan bantuan para ahli, diharapkan pasangan bisa menemukan solusi yang tepat sesuai dengan tata laksana kedokteran.

“Jadi, penting untuk bisa tahu latar belakang (kesehatan) suami istri, sangat penting untuk jujur terhadap kondisi kesehatan masing-masing pasangan,” kata Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi itu.