Shanghai (ANTARA) - SHANGHAI, 7 Februari (Xinhua) -- Industri pariwisata global diperkirakan akan mendapat dorongan setelah China, salah satu pasar pariwisata keluar (outbound) terbesar di dunia sebelum pandemi, melanjutkan kembali tur kelompok outbound pada Senin (6/2).

Di Bandar Udara Internasional Pudong Shanghai, dengan sangat gembira, Huang Xing (69) melakukan check-in bersama tiga temannya untuk perjalanan yang telah lama direncanakan ke Phuket.

Mereka telah melakukan beberapa perjalanan ke luar negeri bersama sebelum pandemi, dan saat ini mereka juga merencanakan perjalanan ke Eropa Timur nanti pada tahun ini.

"Thailand relatif dekat, dan meskipun ini perjalanan kelompok, jadwalnya cukup santai, dan rasanya senang bisa bersama teman-teman," kata Huang.

Huang merupakan salah satu dari 25 turis dalam tur ke Thailand yang diselenggarakan oleh Shanghai Airlines Tours International (Group) Co., Ltd.

Mulai Senin, China melanjutkan kembali perjalanan kelompok outbound ke 20 negara, termasuk Thailand, Maladewa, Uni Emirat Arab, Rusia, dan Selandia Baru.

Langkah tersebut, yang diumumkan pada Januari, memicu hiruk pikuk perencanaan perjalanan dan membuat pencarian daring untuk destinasi di luar negeri melonjak, dengan Thailand menjadi yang paling populer.

Cheng Chaogong, kepala peneliti dari lembaga penelitian pariwisata yang terafiliasi dengan agen perjalanan daring Tongcheng-eLong, mengatakan bahwa negara-negara dengan kebijakan masuk yang ramah terhadap China menjadi destinasi yang lebih disukai. Di antara negara-negara tersebut, negara-negara Asia Tenggara menduduki peringkat teratas, juga karena iklim nyaman yang mereka tawarkan saat ini.

Menurut Nonglux Yooyendee, Direktur Kantor Otoritas Pariwisata Thailand di Shanghai, sebanyak 11 juta turis China mengunjungi Thailand pada 2019, yang merupakan seperempat dari pasar masuk (inbound) Thailand. Diperkirakan 5 juta hingga 6 juta turis China akan mengunjungi Thailand tahun ini. Sejak Januari, Thailand telah menyambut sekitar 90.000 turis China.

Dai Bin, Presiden Akademi Pariwisata China (China Tourism Academy/CTA), mengatakan bahwa pelanjutan kembali perjalanan kelompok tersebut menegaskan rasa tanggung jawab dan komitmen China untuk tetap terbuka. "(Ini menunjukkan bahwa) kami siap berbagi peluang dan manfaat pembangunan dengan negara lain," ungkap Dai.

Shanghai Jinjiang Tours Co., Ltd. telah memilih Uni Emirat Arab sebagai destinasi untuk tur kelompok luar negeri pertamanya.

Liu Ning, Presiden Shanghai Jinjiang Tours Co., Ltd., mengatakan Timur Tengah merupakan pasar wisata yang menjanjikan setelah Piala Dunia Qatar berhasil menarik banyak perhatian ke kawasan tersebut, sementara kerja sama ekonomi antara China dan Timur Tengah semakin dalam.

Kembalinya pelancong China secara massal mendongkrak kepercayaan pada pemulihan ekonomi negara-negara yang sangat bergantung pada pariwisata.

Bangkitnya kembali animo untuk bepergian ke luar negeri selama liburan Festival Musim Semi baru-baru ini, misalnya, telah menunjukkan vitalitas ekonomi China yang meningkat dan memberikan optimisme bagi dunia yang tengah berupaya pulih dari keterpurukan ekonomi.

Menurut Tongcheng-eLong, reservasi tiket pesawat outbound dan hotel masing-masing naik 258 persen dan 177 persen secara tahunan (year on year/yoy), selama liburan sepekan tersebut.

Sebuah survei yang dilakukan oleh qyer.com menunjukkan bahwa lebih dari 90 persen responden berencana melakukan perjalanan ke luar negeri dalam kurun waktu setahun ini, dengan sekitar seperempatnya menjadwalkan perjalanan dalam kurun waktu enam bulan.

Pelanjutan kembali perjalanan kelompok outbound di China sangat penting bagi pariwisata Thailand, dan pemerintah serta perusahaan swasta di kedua negara itu telah menunjukkan sikap positif dalam hal ini. Sejumlah perusahaan perjalanan yang melayani wisatawan di Thailand meluncurkan berbagai produk yang relevan untuk memenuhi preferensi turis China, sebut Nonglux Yooyendee.

Namun, pemulihan penuh industri ini kemungkinan masih membutuhkan waktu.

Menurut Zhou Weihong, Wakil Manajer Umum Spring Tour Travel Agency, beberapa faktor masih membatasi pemulihan pasar perjalanan outbound, termasuk kurangnya penerbangan internasional dan mahalnya biaya tur kelompok, yang dipicu oleh tarif yang sangat tinggi, serta biaya hotel dan layanan penerimaan tamu.

Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan pariwisata mempertimbangkan produk-produk yang lebih terdiversifikasi, berskala kecil, dan disesuaikan guna memikat para calon wisatawan dengan pemasaran ceruk dan pengalaman layanan yang lebih baik.

"Kami juga berharap destinasi-destinasi di luar negeri akan siap menerima arus masuk wisatawan China, dalam hal rantai pasokan, sumber daya di lapangan, pengiriman penerbangan, personel, dan sebagainya," ujar Dai.