Tokyo/Singapura (ANTARA) - Harga minyak mentah naik tipis di perdagangan Asia pada Rabu sore, didorong optimisme pemulihan permintaan di China dan ekspektasi bahwa produsen utama akan mempertahankan kebijakan produksi saat ini, mengimbangi kekhawatiran resesi global.

Minyak mentah berjangka Brent terangkat 17 sen atau 0,2 persen, menjadi diperdagangkan di 86,30 dolar AS per barel pada pukul 07.40 GMT setelah jatuh 2,3 persen di sesi sebelumnya.

Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 7 sen atau 0,1 persen, menjadi diperdagangkan pada 80,20 dolar AS per barel, setelah tergelincir 1,8 persen pada Selasa (24/1/2023).

"Ekspektasi permintaan bahan bakar China akan pulih pada paruh kedua tahun ini meningkat dan cenderung mendukung sentimen pasar," kata Hiroyuki Kikukawa, manajer umum riset di Nissan Securities.

Analis dari Bank of America Securities mengatakan pembukaan kembali ekonomi China setelah bertahun-tahun pembatasan COVID yang ketat dapat memicu gelombang besar permintaan yang terpendam selama 18 bulan ke depan.

Di sisi pasokan, volume akan tetap stabil untuk jangka menengah karena Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, diperkirakan akan mempertahankan kebijakan produksinya tidak berubah.

Panel OPEC+ kemungkinan akan mendukung kebijakan produksi minyak kelompok produsen saat ini ketika bertemu minggu depan, lima sumber OPEC+ mengatakan pada Selasa (24/1/2023), karena harapan untuk permintaan China yang lebih tinggi diimbangi oleh kekhawatiran atas inflasi dan ekonomi global.

OPEC+ pada Oktober memutuskan untuk memangkas produksi sebesar 2 juta barel per hari mulai November hingga 2023 karena prospek ekonomi yang lebih lemah.

Namun, kenaikan harga minyak dibatasi oleh persediaan minyak AS yang lebih besar dari perkiraan yang dilaporkan setelah pasar ditutup pada Selasa (24/1/2023).

Stok minyak mentah AS naik sekitar 3,4 juta barel dalam pekan yang berakhir 20 Januari, menurut sumber pasar yang mengutip angka American Petroleum Institute (API). Itu tiga kali lipat perkiraan untuk kenaikan sekitar 1 juta dalam jajak pendapat awal Reuters pada Senin (23/1/2023).

Namun, Kikukawa dari Nissan memperkirakan penumpukan (stok) itu "bersifat sementara karena gangguan pasokan dari cuaca dingin di Amerika Serikat beberapa minggu yang lalu hanya akan berdampak pada data dalam beberapa minggu ke depan".

Data resmi dari Badan Informasi Energi AS akan dirilis pada Rabu malam.

Kikukawa memperkirakan WTI akan diperdagangkan dalam kisaran antara 75 dolar AS dan 85 dolar AS per barel dalam beberapa minggu mendatang.

Pasar juga mengawasi keputusan suku bunga dari bank-bank sentral untuk lebih banyak isyarat perdagangan.

"Tampaknya tidak adanya komentar hawkish Fed dari periode blackout saat ini telah menghilangkan kunci sentimen risiko untuk saat ini, memberikan beberapa daya tarik baru kembali ke pertumbuhan," kata Yeap Jun Rong, analis pasar di IG, dalam sebuah catatan.

Investor sedang menunggu untuk melihat apakah Federal Reserve AS akan "bereaksi terhadap kejutan penurunan inflasi dan pertumbuhan baru-baru ini" ketika bertemu minggu depan, ujar analis menambahkan.


Baca juga: Harga minyak Asia "rebound", ditopang optimisme permintaan China
Baca juga: Panel OPEC+ tak mungkin ubah kebijakan minyak di pertemuan 1 Februari
Baca juga: Minyak jatuh karena ambil untung di tengah kekhawatiran ekonomi global