Jakarta (ANTARA) - Denis Darmawan menjadi harapan terakhir Indonesia untuk bisa mendulang emas dari nomor sanda Kejuaraan Dunia Wushu Junior (WJWC) 2022.

Dari 11 wakil Merah Putih, Denis menjadi satu-satunya atlet sanda yang mampu melaju ke semifinal kelompok junior kelas 52kg putra.

Kepastian ini setelah Denis mengalahkan Abdelouhab dari Algeria di ICE BSD, Tangerang, Banten, Kamis.

Dengan hasil ini pada Jumat (9/12), Denis akan berhadapan dengan atlet Vietnam Hua Van Doan yang mengalahkan Islam Turarov dari Kazakhstan.

Baca juga: Menpora berharap pundi-pundi emas Indonesia bertambah di WJWC 2022

"Hanya Denis yang masih tersisa di sanda. Tetapi, saya yakin Denis bakal mampu mengatasi atlet Vietnam. Kami sudah mempelajari pola permainan atlet Kazakhstan yang dikalahkannya. Bahkan, kami juga telah menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi Hua Van Doan," kata pelatih sanda Indonesia, Muhammad Slamet.

Pada pertandingan lainnya, kekalahan dialami Kiemas Sakti Negara saat tampil di semifinal kelas 45kg kelompok junior putra.

Kiemas gagal melangkah ke final setelah dikalaahkan atlet Vietnam, Nguyen Dang Khoa. Dengan hasil ini, Kiemas harus puas meraih medali perunggu.

"Dari nomor Sanda memang baru hanya medali perunggu yang disumbangkan Kiemas. Di pertarungan itu, Kiemas sudah melakukan perlawanan maksimal namun lawannya memang tampil lebih baik," kata Manajer Tim Sanda Kontingen Wushu Indonesia, Sudarsono.

Baca juga: Kylie bawa Indonesia capai target di Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022
Baca juga: Indonesia tambah dua emas pada hari kedua WJWC 2022


Hasil yang kurang mengembirakan juga dialami Nabila Puspita Annastasya yang kalah dari Diana Rahimi asal Iran di perenpat final kelas 56kg kelompok junior Putri.

Setelah mengevaluasi, lanjut Sudarsono, ada dua penyebab kegagalan atlet sanda Indonesia untuk menembus babak final.

Pertama, atlet masih grogi dan di babak awal berhadapan dengan lawan-lawan tangguh dari China, Iran, dan Vietnam.

"Atlet Iran dan China belum ada yang kalah hingga babak semifinal. Kedua negara ini memang pesaing berat ditambah Vietnam," pungkas Sudarsono.