Jakarta (ANTARA) - Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung Darmawan Purba berpendapat Bawaslu RI, provinsi, dan kabupaten/kota perlu menyelenggarakan kegiatan bagi generasi (Gen) Z untuk berkreativitas membuat konten kampanye di media sosial mengenai pemilu berkualitas.

“Perlu peran Bawaslu RI, bawaslu provinsi, dan kabupaten/kota untuk membuat semacam event-event yang mengundang kreativitas generasi Z untuk membuat konten positif mengampanyekan pemilu berintegritas, berkualitas, dan sebagainya,” ujar Darmawan.

Hal tersebut dia sampaikan saat menjadi narasumber dalam sosialisasi pengawasan pemilu partisipatif yang digelar Bawaslu Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, sebagaimana dipantau melalui kanal YouTube Bawaslu Pringsewu di Jakarta, Senin.

Selanjutnya, kata dia, konten-konten tersebut dapat dibagikan di beragam media sosial yang saat ini banyak digunakan masyarakat sehingga dapat menjadi wadah pendidikan politik guna mencegah terjadinya pelanggaran dalam Pemilu 2024.

Baca juga: DKPP berharap partisipasi mahasiswa untuk Pemilu 2024 meningkat
Baca juga: Ketua MPR ajak mahasiswa kaji efektivitas pelaksanaan pemilu langsung


Darmawan menyampaikan generasi Z yang lahir pada rentang tahun 1997—2012 itu dapat diberdayakan oleh pihak penyelenggara pemilu, terutama bawaslu untuk mengampanyekan penolakan terhadap politik uang dan politik identitas dalam pelaksanaan Pemilu 2024.

“Pencegahan pelanggaran yang bisa diperankan generasi Z, salah satunya adalah ikut mengampanyekan pemilu berkualitas berbasis digital. Dengan cara apa, boleh dengan membuat konten kreatif dengan tema menolak politik uang, mengampanyekan pemilu tanpa SARA, pemilu yang sejuk, dan sebagainya,” jelasnya.

Darmawan mengingatkan bahwa pada Pemilu 2024, pemilih didominasi oleh kalangan pemilih muda sehingga mereka perlu berperan aktif, baik sebagai pemilih ataupun menjadi bagian dari pihak pengawas pemilu.

Berdasarkan hasil survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS), proporsi pemilih muda pada Pemilu 2024 diprediksi mencapai 60 persen atau sekitar 190 juta orang.

“Berbicara pemilu sebagai ajang menentukan nasib (bangsa), maka generasi muda sangat berkepentingan. Bagaimana biaya pendidikan pada tahun 2025, biaya kesehatan tahun 2027, itu sangat ditentukan oleh seleksi kepemimpinan pada Pemilu 2024. Oleh karena itu, mereka sangat berkepentingan terhadap hasil pemilu ke depan. Maka, tidak ada alasan untuk mereka tidak aktif, baik sebagai pemilih maupun pengawas pemilu,” jelas Darmawan.