Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Biotis Pharmaceutical Indonesia FX Sudirman meminta pemerintah tetap mengalokasikan anggaran belanja vaksin COVID-19, khususnya produksi dalam negeri pada 2023.

"Kami berharap, kebijakan itu bisa pikirkan kembali. Dari bisnis, kami sudah investasi banyak dan yang beli vaksin hanya pemerintah," kata FX Sudirman dalam agenda Lokakarya Pengembangan Obat Dalam Negeri di Hotel Ayana MidPlaza Jakarta, Jumat.

PT Biotis Pharmaceutical Indonesia merupakan perusahaan farmasi swasta yang kini memfasilitasi produksi Vaksin Inavac yang dikembangkan Tim Peneliti Universitas Airlangga.

Biotis yang berdomisili di Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, memiliki kemampuan produksi hingga 20 juta dosis per bulan. Khusus pada tahap awal, akan ditingkatkan hingga 5 juta dosis per bulan.

Baca juga: Produsen sebut Vaksin Inavac bisa untuk booster remaja akhir 2022

Baca juga: Vaksinasi Indonesia terbaik di antara negara yang bukan produsen


FX Sudirman berharap alokasi anggaran vaksin bisa terus berlanjut di tahun depan, walau tidak sebanyak tahun sebelumnya. "Jadi, jangan distop 100 persen dulu," katanya menjawab pertanyaan wartawan terkait penghapusan alokasi dana penanganan COVID-19 mulai 2023.

Ia mendorong pemerintah untuk memikirkan ulang kebijakan itu mengingat hingga sekarang status pandemi COVID-19 yang diumumkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 11 Maret 2020 belum dicabut.

Ia mengatakan Vaksin Inavac menggunakan platform inactivated virus mengandung puluhan antigen yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan melalui transfer teknologi dari berbagai perusahaan farmasi global.

"Ada rencana Tim Peneliti Unair akan mengembangkan Vaksin Koktail yang dalam satu vaksin bisa banyak varian, mengingat pandemi yang akan datang, juga akan ada varian yang lain juga," ujarnya.

FX Sudirman mengatakan Inavac vaksin berplatform inactivated memiliki kelebihan untuk beradaptasi pada berbagai varian baru SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 jika dibandingkan generasi terbaru berplatform mRNA maupun Protein Recombinan.

"Kalau mRNA hanya satu jenis protein, cuma spike protein saja. Kalau inactivated ada puluhan antigen di dalamnya yang sampai sekarang masih kami teliti dan kembangkan," katanya.

"Ada beberapa negara fanatik dengan inactivated. Bukan kami bicara vaksin mRNA atau jenis lainnya yang terbaru itu jelek, semua ada kelebihan dan kekurangannya," katanya menambahkan.*

Baca juga: Indonesia masih gunakan jenis vaksin yang sama untuk dosis lengkap

Baca juga: Empat produsen vaksin COVID-19 ajukan registrasi EUA di Indonesia