Makassar (ANTARA) - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sulawesi Selatan kembali menggelar Festival Mulo atau MULOF3ST yang disiapkan menjadi ruang berekspresi bagi pegiat fesyen lokal sesuai temanya.

"Secara kebetulan fashion sedang jadi perbincangan hangat gegara fashion jalanan oleh anak-anak muda Citayam di Jakarta. Ini adalah dua momentum yang ketemu di saat yang tepat. Boleh dibilang ini adalah kebetulan yang benar," kata Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Sulsel Devo Khaddafi dalam keterangannya, Senin.

Menurut Devo, Festival Mulo yang ketiga ini yang mengangkat tema fesyen ini sudah direncanakan jauh sebelumnya dan diadakan setelah Lebaran yang lalu.

"Jadi sekalian kami siapkan ruang berekspresi yang nyaman tapi aman di area Gedung Mulo bagi mereka yang ingin mencoba," ujarnya.

Devo mengundang para kaum muda Makassar dan siapa saja yang gemar fashion untuk datang ke Mulo Fest. "Jangan lagi di jalanan. Selain berbahaya, juga bisa mengganggu pengguna jalan," katanya.

Apalagi, lanjutnya, di MULOF3ST nanti peserta tidak hanya bisa tampil berfesyen ria dengan gembira, tapi juga bisa menyaksikan berbagai konten menarik yang bakal disajikan.

Pada festival sebelumnya, menurut Devo, Mulo Fest #1 mengangkat tema tentang kuliner lokal rasa nusantara dan Mulo Fest #2 tentang geliat film lokal Makassar/Sulsel.

Pada MULOF3ST nanti, para pengunjung bakal menyaksikan dan mengikuti berbagai rangkaian acara yang menarik antara lain workshop fotografi, workshop dan talk show kecantikan, pameran dan bazaar kuliner dan UMKM lokal, games berhadiah, penampilan musik, seni dan budaya, hingga art gallery.

Pembeda lain di MULOF3ST dibanding Mulo Fest pertama dan kedua adalah durasinya. Mulo Fest yang pertama dan kedua digelar hanya sehari, tapi kali ini akan digelar selama dua hari yaitu 26 - 27 Agustus 2022.

"Mulo Fest kita adakan untuk tujuan memberikan ruang bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif berekspresi dan memamerkan produk-produk yang mereka miliki," ujar Devo.

Kegiatan ini juga diharapkan akan menjadi embrio bagi lahirnya kegiatan fesyen street wear di Sulawesi Selatan dengan berbagai macam produk lokal yang telah dikenal sampai ke seluruh Indonesia bahkan dunia.