Johannesburg (ANTARA) - Afrika Selatan kemungkinan memasuki gelombang kelima infeksi COVID-19 lebih awal dari yang diprediksikan, setelah terus-menerus mengalami lonjakan infeksi dalam 14 hari terakhir, kata Menteri Kesehatan Joe Phaahla, Jumat.

"Yang masih stabil ... pasien masuk rumah sakit, termasuk ICU, tak ada perubahan yang begitu dramatis," kata Phaahla saat konferensi pers.

"Kematian juga meningkat, tidak terlalu dramatis."

Baca juga: Afsel pertahankan pembatasan sosial Level 1 dalam menangani Omicron

Menurut dia, pada tahap ini otoritas kesehatan belum diperingatkan tentang adanya varian baru, selain perubahan yang dominan beredar, Omicron.

Afrika Selatan mencatat infeksi dan kematian COVID-19 tertinggi di Benua Afrika hingga saat ini, dengan lebih dari 3,7 juta kasus terkonfirmasi dan 100.000 lebih kematian.

Pada Kamis kantor WHO untuk Afrika menandai lonjakan infeksi COVID-19 Afrika Selatan sebagai pemicu utama peningkatan infeksi di benua Afrika.

Sumber: Reuters

Baca juga: WHO: Izin vaksin COVID yang diproduksi di Afsel bisa sampai 3 tahun
Baca juga: Riset Afsel: Omicron bisa picu kekebalan terhadap Delta