Jakarta (ANTARA News) - Politikus Partai Gerindra, Permadi, menyarankan agar gedung tempat pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RI di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta dibangun kembali.

Permadi saat Diskusi Nasional Membangun Puing Nasionalisme, Bangun Kembali Rumah Proklamasi di Jakarta, Kamis, mengatakan bahwa rumah itu merupakan saksi bisu sejarah proklamasi Indonesia.

Bangunan yang disebut Gedung Proklamasi itu dibongkar pada tahun 1960.

Menurut Permadi, pembangunan gedung proklamasi merupakan metafora nasionalisme Indonesia. "Dari sana pertama kali nasionalisme Indonesia dikukuhkan, diumumkan ke seantero Nusantara dan dunia oleh Soekarno," katanya.

Permadi mengatakan pada 2004 arsitek penulis buku "Soekarno Sang Arsitek" Yuke Ardhiati mendatangi kantornya dan menunjukkan cetak biru gedung proklamasi di Pegangsaan Timur itu.

Dia menceritakan Yuke mengajaknya untuk membangun kembali rumah proklamasi dan Permadi menyetujuinya, soal dana akan ia usahakan, tetapi yang terpenting adalah mendapat izin pembangunan.

Namun, hingga saat ini Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tak juga turun dari pemerintah DKI Jakarta.

"Saya heran, pembangunan untuk mengembalikan bangunan bersejarah kenapa dihalang-halangi?" kata Permadi.

Oleh karena itu, Permadi mengajak ratusan peserta yang hadir untuk bersepakat menggalang dukungan untuk pembangunan kembali rumah proklamasi.

"Pembangunan kembali rumah proklamasi adalah metafora, perumpamaan kembali bangkitnya nasionalisme Indonesia," ujarnya.

Perwakilan dari Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Cahyanto, mengemukakan rencana pembangunan kembali rumah proklamasi sebenarnya telah dicetuskan Ali Sadikin pada 1976 yang saat itu menjabat gubernur DKI Jakarta.

Namun, menurut Cahyanto, ada banyak pihak yang menghalangi terwujudnya rencana tersebut.

"Saat itu saya termasuk anggota tim yang ditugaskan untuk melakukan penilaian rencana itu, tapi di tengah-tengah prosesnya tiba-tiba dihentikan tanpa alasan yang jelas," katanya.

Cahyanto mengatkan akan menyampaikan hasil kesepakatan dalam diskusi itu kepada pimpinannya.

Diskusi nasional itu diselenggarakan oleh Jaringan Citizen Reporter Presstalk di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta, untuk memperingati Hari Pahlawan Nasional 10 November.

Selain Permadi, tokoh-tokoh lain yang hadir antara lain Mayjen (Purn) Saurip, pengamat ekonomi Hendri Saparini, wartawan senior Budiarto Shambazy, dan juga keturunan para pahlawan nasional, seperti Ganang Sudirman (cucu Jenderal Sudirman) dan Irawan Ronodipuro (putra Jusuf Ronodipuro).

(SDP-01/U002)