Jakarta (ANTARA News) - Langit berwarna biru bersih tanpa selaput awan tipis menutupinya. Surya memancar kuat sejak pagi hingga memanggang panas permukaan lembah padang pasir, punggung bukit, dan gunung batu. Tetapi semua itu tidak mampu mematahkan semangat umat muslim menuju Padang Arafah.

Dengan berpakaian ihram, pada pagi hari, segera setelah berjamaah sholat subuh, ribuan umat Islam berangkat menuju Arafah mengikuti tuntunan seorang tokoh agung yang menunggang seekor unta memimpin seluruh prosesi ibadah haji.

Mereka dengan penuh haru dan syahdu, bertakbir, bertahmid dan bertalbiyah. Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wanni`mata laka walmulka lasyarika laka labbaik.

Yang artinya: Allah Maha Besar, dan bagi Allah segala puji, inilah kami datang Ya Allah memenuhi panggilan-Mu, inilah kami datang menyatakan tidak ada sekutu bagi-Mu, sungguh segala puji dan nikmat adalah milik-Mu, demikian pula kekuasaan, tidak ada yang menandingi kekuasaan-Mu.

Pemimpin agung ini tampil dengan kesederhanaannya. Beliau menghentikan untanya. Seluruh perhatian, pandangan mata, simakan telinga, semuanya terpusat kepada sosoknya. Ia adalah raja.

Allah telah berkenan menaruh di depannya kunci perbendaharaan dunia. Tetapi beliau lebih memilih cara hidup yang sama sekali berbeda dengan kelaziman para raja dan penguasa yang pernah ada sebelumnya.

Tempat tinggalnya bukan istana melainkan Rumah Sangat Sederhana. Kepalanya tidak bermahkota. Pundak dan dadanya tidak bersematkan tanda pangkat dan lambang kebesaran dunia.

Bahkan meskipun sangat mampu, beliau tidak pernah memakai kain sutera. Tidak pernah tidur di atas kasur yang empuk, karena lebih memilih tikar ilalang sebagai alas.

Beliau adalah seorang sosok manusia yang malam-malam harinya diisi dengan dzikir dan tafakkur. Berdzikir, mengingat Allah dan bertafakkur, merenungkan ayat-ayat Ilahi baik yang tersurat maupun yang tersirat.

Beliau adalah seorang ummi alias tidak mengenal aksara namun segenap penghuni bumi ini telah diajarinya. Beliau adalah seorang sosok manusia yang siang harinya disarati dengan pergulatan kehidupan ummat yang dipimpinnya.

Beliau seorang sosok manusia yang mempunyai kekuatan dan pengaruh, baik terhadap orang awam maupun cerdik pandai. Wajahnya menyiratkan sikap lemah lembut, ksataria sekaligus cerdas. Sehingga siapa pun yang berhubungan dengan beliau, menaruh hormat dan cinta.

Ditengoknya orang sakit tanpa pandang kelas sosial. Diterimanya undangan seorang budak yang mengundangnya makan di gubuknya. Dijahitnya sendiri pakaiannya yang koyak. Yang tidak pernah berpaling sebelum orang lain berpaling. Yang tangannya senang memberi. Dan lidahnya sangat terpercaya.

Beliau adalah sosok manusia yang sangat sayang pada anak-anak. Yang perkataannya tidak pernah melukai orang lain. Yang diutus untuk menjadi rahmat.

Beliau adalah seorang yang berwajah tampan, berjanggut bersih. Rambutnya yang ikal panjang tersisir rapi di bawah sorban putih. Raut muka bercahaya, sorot mata tajam tapi teduh. Badannya pun kekar, berdada bidang, berkulit putih kemerah-merahan. Kala itu usia baru saja melewati enam puluhan.

Siapakah seorang sosok manusia yang luar biasa itu? Siapa lagi kalau bukan manusia tercinta, panutan umat, yaitu Muhammad Rasulullah SAW, tokoh teladan hidup.

Sesungguhnya telah ada bagi kamu sekalian pada diri Rasulullah itu Uswatun Hasanah (teladan hidup yang baik) bagi siapa saja yang mengharapkan keridlaan Allah.



Pesan universal

Beliau masih duduk di atas untanya, Al-Qashwa yang setia. Di dekat beliau berdiri Rabi`ah bin Umayyah bin Khalaf, yang dianugerahi Allah suara yang keras dan lantang.

Rabi`ah mendapat tugas mulia, menyambung suara Rasul, mengulanginya agar jelas terdengar oleh ummat manusia meskipun berada jauh di suatu tempat.

Mulailah Rasulullah SAW menyampaikan pesan-pesan. Dan perhatian umat seluruhnya terpusat kepada beliau.

Kita dengar beliau bersabda (yang artinya): Wahai manusia simaklah kata-kataku, karena akan kuterangkan kepada kalian, bahwa sesungguhnya aku tidak tahu, barangkali aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian sesudah tahun ini, di tempat wuquf perhentian ini, untuk selama-lamanya.

Siapakah di antara umat yang hadir yang tiada tersentuh hatinya ketika mendengar dari lisan Rasulullah SAW kata-kata perpisahan? Terjadilah apa yang harus terjadi, yaitu sebuah dialog agung antara Rasulullah SAW dan kita semua. Ketika beliau bersabda:

Wahai manusia, tahukah kalian bulan apakah sekarang ini? Syahrul Haraam (Bulan Haram) jawab kita serentak. Kemudian beliau bersabda lagi: Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian, darah dan harta sesama kalian, sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian, sebagaimana haramnya bulan kalian ini. Tahukah kalian, negeri apakah ini? Al-Baladul Haraam (Negeri Al-Haram) jawab kita semua serentak.

Lalu berikutnya beliau bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian, darah dan harta sesama kalian, sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian, sebagaimana haramnya negeri kalian ini. Tahukah kalian, hari apakah ini?

Yaumul Haraam (Hari Al-Haram) jawab umat saat itu.

Kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian, darah dan harta sesama kalian, sampai kalian berjumpa dengan Rabb kalian, sebagaimana haramnya hari kalian ini di negeri kalian ini. Dan sesungguhnya kalian akan berjumpa dengan Rabb kalian Yang akan menanya kalian tentang segala perbuatan kalian.

Selanjutnya Rasulullah SAW menanyakan kesaksian umat seraya bersabda: Wahai, apakah sudah aku sampaikan? Ya, Engkau sudah menyampaikannya jawab kita serempak.

Kemudian Rasulullah SAW menengadah ke langit, lalu menoleh kembali kepada kita seraya berseru: Ya Allah, saksikanlah kesaksian mereka itu!

Kata perpisahan mencapai klimaksnya ketika Rasulullah SAW menyampaikan pesan seraya bersabda:

Maka camkanlah wahai manusia perkataanku ini, sesungguhnya telah kusampaikan kepada kalian, dan sesungguhnya telah kutinggalkan pada kalian sesuatu, yang apabila kalian berpegang teguh padanya, pasti kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Sesuatu itu ialah yang terang dan nyata: Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya.

Selanjutnya Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya kalian akan ditanya mengenai diriku, maka apakah yang akan kalian katakan?

Serempak dijawab: Kami bersaksi bahwa sesungguhnya engkau telah menyampaikan risalah, dan engkau telah menunaikan tugas serta telah melaksanakannya dengan sungguh-sungguh.

Seraya menengadah ke atas kemudian menunjuk kepada umat, Rasulullah SAW berseru dengan sabdanya: Ya Allah, saksikanlah kesaksian mereka! Saksikanlah Ya Allah, kesaksian mereka!

Selanjutnya sabda Rasulullah SAW: Maka hendaknya dari antara kalian yang hadir menyampaikannya kepada yang tidak hadir. Maka yang berniat menyampaikannya kepada orang lain agar lebih memperhatikannya daripada sebagian orang yang sekedar mendengarkannya.

Usai menyampaikan kata-kata perpisahan itu, Rasulullah SAW turun dari untanya. Setelah menunaikan shalat jama` Dzuhur dan Ashar secara berjama`ah, umat mengikuti beliau bersama jama`ah lainnya berangkat meninggalkan Padang Arafah.

Tempat ini adalah tempat beliau telah menyampaikan wahyu Ilahi yang terakhir kalinya sebagai penutup risalah, yaitu firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 3 yang artinya:

Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian Agama kalian dan telah Aku sempurnakan anugerah nikmat-Ku atas kalian dan Aku rela Al-Islam sebagai Agama kalian.

Peristiwa yang mencekam ini diterima oleh Abu Bakar, Sahabat Nabi, dengan isakan tangis tak tertahankan. Intuisi Abu Bakar yang sangat tajam membisikkan bahwa peristiwa ini pertanda risalah sudah tammat, maka perpisahan dengan Rasulullah SAW tercinta sudah dekat.

Rangkaian peristiwa mengharukan 14 abad silam itu diangkat Dr. KH.M. Muzammil Basyuni, mantan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia di Republik Arab Suriah pada khutbah Idul Adha (10 Dzul-Hijjah 1432) 6 Nopember 2011 di Masjid Agung At-Tiin Jakarta, dengan judul "Renungan Safari Haji Bersama Rasulullah".
(E001/D009)