Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan nilai perdagangan antara Indonesia dan Korea Selatan bisa mencapai 20 miliar dolar AS.

Dalam acara Korea-Indonesia Business Forum yang digelar secara hybrid dan dipantau secara daring di Jakarta, Selasa, Menko Airlangga menjelaskan kinerja perdagangan antara RI dan Korsel pada 2021 tercatat mencapai 18,4 miliar dolar AS, atau meningkat hampir mendekati 40 persen dibandingkan 2020. "Diharapkan ini bisa kembali ke level yang ditargetkan menjadi 20 miliar dolar AS antara kedua negara," katanya.

Menko Airlangga menuturkan, Korea Selatan berada di peringkat ke tujuh dari tujuan ekspor dan peringkat ke enam asal impor. Hal itu, katanya, mencerminkan perdagangan kedua negara masih berjalan secara baik. Di sisi investasi, kendati dibayangi dengan pandemi Covid-19 yang masih melanda, realisasi investasi negeri ginseng pada 2021 mencapai 1,64 miliar dolar AS.

Ia menyebukant reformasi struktural melalui Omnibus Law Cipta Kerja dinilai jadi salah satu pendorong meningkatnya investasi Korsel ke Indonesia.

"Tadi dalam pertemuan dengan Pak Menteri Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi (MoTIE) Korea Selatan Moon Sung Wook, (beliau) mengapresiasi reformasi struktural yang dilakukan melalui Omnibus Law Cipta Kerja yang mendorong terciptanya kenaikan investasi Korea ke Indonesia dengan beberapa project yang sedang dalam pipeline," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Koordinator Bidang Maritim, Investasi dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani mengungkapkan jika dilihat dari data tiga tahun ke belakang, total perdagangan RI-Korsel masih di bawah capaian pada 2018 sebesar 18,6 miliar dolar AS.

Oleh karena itu, menurut dia, peluang untuk meningkatkan kerja sama antara kedua negara masih sangat besar.

"Kami menyadari bahwa menimbang kekuatan dan potensi ekonomi yang besar dari kedua negara, peluang untuk meningkatkan dan mengembangkan kerja sama masih terbuka lebar," katanya.

Shinta pun menekankan masih ada potensi kerja sama yang prospektif terkait rantai pasok dan rantai nilai antara kedua negara masih bisa digali lebih dalam.

Kadin Indonesia, lanjut Shinta, telah mengidentifikasi sejumlah peluang kerja sama dengan Korea Selatan, khususnya dalam konteks rantai pasok dan rantai nilai.
Sektor-sektor yang dibidik itu antara lain industri baterai listrik, industri kimia, industri baja, industri kesehatan dan energi hijau.
Baca juga: Kadin Indonesia sasar peluang kerja baterai listrik dengan Korsel
Baca juga: Menko Airlangga ajak pengusaha RI-Korsel perkuat ekonomi kedua negara
Baca juga: RI-Korsel bahas isu perdagangan bilateral dan regional