Palembang (ANTARA News) - Sriwijaya Football Club (SFC) kecewa dengan sikap PSSI yang tidak melibatkan klub dalam menetapkan ketentuan menjadi partisipan liga profesional, kata Direktur Teknik PT Sriwijaya Optimis Mandiri, Hendri Zainuddin, di Palembang, Selasa.

"Kami kecewa dengan sikap PSSI yang main berkirim surat saja, tanpa terlebih dahulu meminta tanggapan, saran atau kritik dari klub," katanya pula.

Padahal, PSSI sempat mengadakan workshop di Jakarta pada 3 Agustus lalu, untuk mengenalkan format liga profesional.

"Seharusnya pada workshop lalu dijadikan ajang bertukar pikiran mengenai konsep liga profesional yang baru. Inilah yang membuat kami kecewa, karena surat tiba-tiba saja datang ke manajemen klub tanpa sempat menyampaikan aspirasi," ujar dia.

Menurut dia, PSSI bertidak demikian karena takut dijegal atau diinterupsi oleh pengurus klub.

"PSSI tidak mau bertemu muka dengan pengurus klub karena takut diinterupsi. Seharusnya, PSSI tidak perlu takut karena sejatinya lebih baik bertarung di awal daripada nantinya setelah berjalan justru ribut," katanya.

Dia mencontohkan, beberapa keputusan sepihak Komite Kompetisi PSSI yang menganjal, di antaranya peserta liga profesional harus memiliki deposit partisipasi sebesar Rp5 miliar, berada dalam naungan PT, dan kontrak maksimal pemain lokal sebesar Rp500 juta.

"Kami tidak tahu mengapa ditetapkan demikian, alasannya apa. Mengapa deposit harus Rp5 miliar, mengapa kontrak pemain lokal harus Rp500 juta. Sebenarnya, bagi SFC ketentuan itu tidak masalah karena kami telah siap. Meskipun demikian, kami menentang sikap PSSI yang asal main kirim surat saja," ujar dia pula.
(*)