Jakarta (ANTARA) - Peneliti Utama Uji Klinik Vaksin Merah Putih Universitas Airlangga (UNAIR) Dominicus Husada mengatakan pihaknya akan coba memberikan subjek atau relawan dalam fase uji klinik vaksin Merah Putih dua dosis vaksin.

“Vaksin disuntik dua kali dengan jarak empat minggu. Jadi saringan, lolos, baru disuntik. Nanti empat minggu lagi suntikan kedua, setelah suntikan kedua baru dinilai seperti vaksin Sinovac,” kata Dominicus saat dihubungi ANTARA melalui telepon di Jakarta, Senin.

Dominicus menuturkan pemberian dua dosis vaksin itu ditujukan untuk melihat indikator-indikator yang menjadi syarat keberhasilan vaksin saat melakukan uji coba pada manusia.

Pada penyuntikan pertama, pihaknya akan melakukan penelitian apakah keamanan pada vaksin dapat terjamin serta efek samping yang akan ditimbulkan seperti adanya demam atau menderita penyakit kuning. Sedangkan pada penyuntikan dosis kedua akan melihat sejauh mana kekebalan atau anti bodi dapat terbangkitkan.

Sedangkan pada banyaknya relawan, dia menyebutkan ada sebanyak 495 relawan bersedia mengikuti uji coba klinik tersebut. Dengan rincian 90 relawan pada fase I dan 405 relawan pada fase II.

Baca juga: BPOM beri izin uji klinik Vaksin Merah Putih yang dikembangkan Unair
Baca juga: BPOM: Uji klinik Vaksin Merah Putih ikutsertakan 495 relawan

Kemudian dia menjelaskan bahwa kendala yang akan terjadi dari penyuntikan itu adalah tubuh manusia yang berbeda satu sama lain dan tidak dapat diduga. Sehingga berbagai kemungkinan baru bisa dinilai setelah pengujian dilakukan.

“Walaupun persiapan kita baik, ada hal-hal yang membuat manusia menjadi unik satu sama lain sehingga kita akan menunggu sampai uji klinik berakhir. Mungkin yang baik di uji hewan, baik di orang, tapi bisa juga baik di hewan, tidak baik di orang. Semua kemungkinan terbuka,” tegas dia.

Walaupun demikian, dirinya mengaku vaksin Merah Putih bisa lanjut uji klinik karena pengujian terhadap hewan baik yang kecil seperti tikus atau besar seperti kera, berjalan dengan baik dan sesuai dengan prosedur standar yang ada.

Menurut Dominicus, selama pengujian terhadap hewan terjamin keamanan serta kekebalan yang diciptakan terbukti dapat menjadi lebih tinggi, maka pengujian terhadap manusia bisa dilakukan.

Sama halnya bila Merah Putih ingin dijadikan sebagai vaksin booster. Dominicus menegaskan vaksin itu perlu melewati fase I, II dan III terlebih dahulu termasuk melewati skema lainnya agar bisa diuji kemampuannya. Namun, uji coba itu masih harus memakan waktu lebih lama lagi.

Ia turut berharap kedua fase uji klinik dapat berjalan dengan baik dan lancar. Sehingga vaksin Merah Putih dapat menjadi vaksin pertama yang diproduksi di Indonesia dari anak bangsa untuk bangsa.

"Inilah vaksin pertama yang kita bikin sepenuhnya untuk orang Indonesia dari orang Indonesia,” kata Dominicus.

Baca juga: BRIN: Faktor pengalaman jadi kendala pengembangan vaksin Merah Putih
Baca juga: Uji klinis fase 1 vaksin Merah Putih Unair dimulai 8 Februari 2022
Baca juga: Gubernur Jatim harapkan uji klinis Vaksin Merah Putih berjalan lancar