Bengaluru (ANTARA) - Saham dan mata uang di pasar negara berkembang Asia berjuang untuk menemukan arah pada perdagangan Rabu, menjelang hasil pertemuan kebijakan Federal Reserve AS, di mana investor akan mencari petunjuk pengetatan kebijakan yang lebih cepat.

The Fed diperkirakan akan memperbarui rencana kebijakan moneternya pada Rabu, dengan pelaku pasar menunggu petunjuk tentang laju kenaikan suku bunga dan garis waktu untuk normalisasi kebijakan.

Ekuitas di Manila (PSI) dan Seoul (.KS11) masing-masing berakhir turun 0,47 persen dan 0,41 persen, sementara saham di Singapura (STI) ditutup naik 0,72 persen, Kuala Lumpur (KLSE) naik 0,45 persen, Bangkok (SETI) naik 0,52 persen, Jakarta (IDX) naik 0,50 persen, setelah sesi semalam yang bergejolak di Wall Street.

Baca juga: Saham Asia perpanjang kerugian, investor khawatiran konflik Ukraina

Neraca berjalan yang seimbang, sebagian besar tekanan inflasi yang lebih rendah dan stabilitas yang diberikan oleh yuan China yang tangguh terhadap mata uang regional telah memastikan bahwa sebagian besar bank sentral Asia tidak ditekan untuk mengejar kenaikan suku bunga seagresif rekan-rekan mereka di Eropa dan Amerika Latin.

Namun, pengetatan Fed memberi tekanan pada beberapa bank sentral di Asia untuk mengikuti, berpotensi merugikan pasar ekuitas mereka, mirip dengan apa yang terjadi pada tahun 2013 ketika bank sentral AS mulai mengurangi stimulus pasca krisis keuangan.

"Tindakan bank sentral baru-baru ini di Asia menunjukkan bahwa mereka mungkin ingin mempersiapkan Fed yang lebih hawkish dari yang diperkirakan saat ini," kata Frances Cheung, ahli strategi suku bunga di OCBC Bank.

Baca juga: Saham Asia dan minyak cenderung melemah, tertekan kekhawatiran Omicron

"Pengetatan pre-emptive memberi mereka beberapa fleksibilitas untuk mempercepat jalur pengetatan mereka sendiri jika ada kejutan dari Fed."

Pada Selasa (25/1/2022), bank sentral Singapura memperketat pengaturan kebijakan moneternya dalam langkah pertama di luar siklus dalam tujuh tahun, sehari setelah negara-kota itu melaporkan inflasi inti pada level tertinggi delapan tahun.

Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya datar di 95,948, sementara mata uang di Asia sebagian besar melemah.

Ringgit Malaysia, rupiah Indonesia, dan dolar Singapura semuanya diperdagangkan datar. Baht Thailand adalah outlier, menguat 0,3 persen.

Di Filipina, pelaku pasar menunggu data produk domestik bruto kuartal keempat negara itu pada Kamis (27/1/2022), dengan ekonomi diproyeksikan tumbuh lebih lambat pada 6,0 persen dari tahun sebelumnya, berdasarkan estimasi median dalam jajak pendapat Reuters.

Pasar keuangan di India dan Australia ditutup pada Rabu untuk hari liburan umum.