New York (ANTARA) - Dolar merosot pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), di tengah momentum penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS setelah mencapai tertinggi sekitar dua tahun pada surat utang 2-tahun dan obligasi 10-tahun, tetapi greenback tetap didukung perkiraan kenaikan suku bunga pada Maret.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun sempat menyentuh tertinggi baru dua tahun di 1,902 persen pada Rabu (19/1), tetapi terakhir turun 4 basis poin pada 1,8271 persen.

Imbal hasil obligasi di ekonomi-ekonomi utama lainnya juga naik, dengan euro, sterling, dolar Kanada, Australia, dan Selandia Baru, antara lain, menguat versus mata uang AS.

Sterling, sementara itu, naik setelah data menunjukkan inflasi Inggris melonjak 5,4 persen pada Desember, level tertinggi dalam 30 tahun, meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga. Namun pembicaraan tentang tantangan kepemimpinan Perdana Menteri Boris Johnson telah menahan sterling.

"Bank-bank sentral sekarang mendapatkan bukti bahwa kuartal keempat tidak serta merta memperlambat laju inflasi dan faktanya, tempat-tempat seperti Inggris mengalami angka IHK yang tidak terlihat sejak awal 1990-an," kata Juan Perez, pedagang dan ahli strategi valas senior, di Monex USA di Washington.

"Kami memperkirakan dolar naik dalam jangka pendek, tetapi jangan tidur di mata uang lain karena kenaikan suku bunga Fed menjadi pemikiran setelahnya," tambahnya.

The Fed akan bertemu minggu depan dan kemungkinan akan memberikan kejelasan dan rincian tentang akhir pelonggaran kuantitatif, mungkin pada Maret. Bank sentral AS juga dapat memberi sinyal akan menaikkan suku bunga pada Maret juga, tepat setelah mengakhiri pelonggaran kuantitatif.

Dana Fed berjangka telah sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga pada Maret dan semuanya untuk tahun 2022.

Pada perdagangan sore, indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya turun 0,2 persen menjadi 95,528.

Greenback memangkas kerugian setelah data menunjukkan pembangunan rumah AS secara tak terduga meningkat pada Desember di tengah cuaca yang tidak bersahabat. Rumah yang baru dibangun meningkat 1,4 persen ke tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 1,702 juta unit bulan lalu.

Euro, komponen terbesar dalam indeks dolar, menguat 0,2 persen pada 1,1348 dolar AS, setelah mencatat penurunan harian tertajam hari sebelumnya dalam sebulan.

Mata uang tunggal Eropa didukung secara keseluruhan setelah imbal hasil obligasi 10-tahun Jerman naik di atas 0,0 persen untuk pertama kalinya sejak 2019 pada Rabu (19/1/2022), menandai titik balik potensial untuk utang kawasan euro yang selama bertahun-tahun dicirikan oleh imbal hasil negatif.

Imbal hasil 10-tahun Jerman, yang dianggap sebagai patokan untuk seluruh zona euro, naik setinggi 0,025 persen, dan terakhir sedikit berubah hari ini di -0,007 persen.

Sementara itu, euro turun ke level terendah 23-bulan versus sterling setelah data inflasi Inggris yang panas. Euro datar terhadap mata uang Inggris, terakhir di 83,29 pence. Terhadap dolar, pound naik 0,2 persen menjadi 1,3624 dolar AS.

Pound juga didukung oleh lonjakan imbal hasil Inggris, dengan imbal hasil surat utang dua tahun naik menjadi 0,958 persen, level tertinggi sejak Maret 2018.

Dolar Australia naik 0,5 persen menjadi 0,7224 dolar AS. Sementara itu, dolar AS melemah 0,2 persen terhadap mata uang Kanada menjadi 1,2492 dolar Kanada setelah tingkat inflasi tahunan Kanada naik ke level tertinggi 30 tahun di 4,8 persen pada Desember.