Jakarta (ANTARA News) - Wakil Presiden Boediono meminta agar dalam melestarikan budaya dan adat istiadat jangan sampai bertabrakan dengan jalan demokrasi yang dipilih oleh masyarakat Indonesia.

Wapres dalam sambutannya di hadapan peserta Silaturahmi Nasional ke II Raja dan Sultan se-Nusantara di Bandung, Sabtu, mengingatkan perlu adanya sinergi antara budaya dan demokrasi.

"Para Raja dan Sultan Nusantara sebagai penjaga dan pengawal adat dan budaya perlu menyadari hal ini dan perlu pandai-pandai mencari cara agar adat dan budaya bangsa menyatu dengan praktik demokrasi, sehingga demokrasi yang kita laksanakan sejalan dan diperkuat oleh nilai-nilai luhur budaya dan kearifan bangsa kita sendiri," kata Wapres.

Menurut Wapres, demokrasi telah menjadi konsensus masyarakat Indonesia. Dalam demokrasi tata nilai keterbukaan, kebebasan berpendapat, Pemilu yang bebas, hukum yang berlaku bagi semua merupakan ciri dan -prinsip dasar dari setiap demokrasi dimana pun.

Namun dalam praktiknya, Wapres menyadari bahwa demokrasi tidaklah sama. Sebab demokrasi yang berkembang dipengaruhi oleh budaya dan adat istiadat di masyarakat. Untuk itu, mengembangkan budaya yang mendukung demokrasi juga amat diperlukan.

Wapres mengatakan, nilai-nilai luhur yang selaras dengan demokrasi perlu terus dikembangkan, sehingga demokrasi dapat tumbuh berkembang dengan baik.

Wapres juga menambahkan pemeliharaan budaya tidak berarti harus menghentikan kemajuan dan perubahan. Budaya merupakan sesuatu yang hidup, yang menyerap perkembangan. Untuk itu, pelestarian adat dan budaya tidak berarti harus antikemajuan.

"Pelestarian adat dan budaya harus diupayakan untuk tidak bertabrakan dengan kemajuan. Budaya dan kemajuan tidak harus saling meniadakan satu sama lain. Keduanya justru harus saling memperkuat jati diri bangsa," kata Wapres.(*)

(T.M041/E005)