Jakarta (ANTARA News) - Sabuk pengaman dan kantong udara mungkin sudah akrab dengan pengemudi, tapi kadang timbul pertanyaan, "memangnya fitur keamanan lain, yang canggih dan mahal-mahal itu, benar-benar perlu untuk kendaraan?"

"Jawabannya adalah 'ya'," tegas Wes Raynal, redaktur majalah AutoWeek. Bisa jadi, anggapan yang meremehkan kegunaan perangkat keselamatan membuat perkembangan fitur tersebut "merayap", tak seperti perkembangan teknologi untuk mesin, misalnya.

Merek pertama yang memperkenalkan sabuk pengaman sebagai perlengkapan standar adalah Saab pada tahun 1998. Setelah itu, merek lain berangsur melengkapi kendaraan dengan sabuk pengaman sebagai fitur standar, tapi peraturan yang mewajibkan penggunaannya baru berlaku tahun 80-an pada banyak negara.

Di Amerika Serikat, fitur dual airbag depan - untuk pengemudi dan penumpang di sebelahnya - baru menjadi keharusan sejak tahun 1998.

Setelah teknologi keselamatan pasif seperti kantong udara dan sabuk pengaman sudah jadi keharusan, sistem keselamatan aktif - perangkat yang mencegah kecelakaan - menyusul makin banyak dipasang pada kendaraan.

Sistem pengereman anti penguncian (ABS) mungkin sudah biasa kita dengar, tapi kendali cruise otonom (ACC) , blind-spot monitoring (BSM) dan kontrol kecepatan elektronik (ESC) adalah fitur yang masih "asing".

"Ketika terjadi slip, kontrol kecepatan elektronik atau ESC mendeteksi dan mengerem hanya roda yang slip sehingga kendali jadi terbantu," kata Raynal.

"Lembaga Asuransi untuk Keselamatan Jalan Raya (IIHS) Amerika Serikat mengatakan ESC dapat mengurangi kecelakaan tunggal hingga sebesar 50 persen."

"Sebagian konsumen mungkin berpikir teknologi ini pemborosan uang," kata Raynal. "Tapi sebenarnya, kecelakaan terjadi setiap hari, dan beberapa di antaranya akan tidak terjadi andai saja kendaraan sudah dilengkapi paling tidak satu dari fitur-fitur ini."
(A038)