Jakarta (ANTARA) - Pada tahun 2021, Liga Italia mencatatkan banyak peristiwa menarik yang terjadi meski saat ini kompetisi berjalan di tengah pandemi COVID-19 yang entah kapan akan berakhir di dunia.

Di tengah kondisi pandemi, Liga Italia tetap menjalankan kompetisi dan diwarnai oleh berbagai peristiwa yang tentu tidak bisa kita kesampingkan kehadirannya.

Inkonsistennya Juventus di bawah Andrea Pirlo

Pada awal musim 2020/2021, Juventus menunjuk salah satu pemain legenda mereka, Andrea Pirlo sebagai pelatih menggantikan Maurizio Sarri yang dipecat meski berhasil meraih Scudetto musim 2019/2020.

Selanjutnya Juventus selama musim 2020/2021, tercatat sama sekali tidak pernah menduduki peringkat pertama selama 38 pekan gelaran Liga 1 dan tercatat pada tahun 2021, Bianconeri hanya sempat terancam terlempar dari posisi empat besar hingga akhirnya duduk di peringkat 4 pada akhir musim.

Inkosistennya Juventus pada musim 2020/2021, membuat Andrea Pirlo dipecat oleh pihak klub dan pada musim 2021/2022, Massimiliano Allegri kembali memegang kendali sebagai pelatih kepala dari Si Nyonya Tua.

Baca juga: Juventus kehilangan DNA setelah datangkan Ronaldo

Inter Milan akhiri penantian 11 tahun

Inter Milan di tahun 2021 berhasil mengakhiri penantian selama 11 tahun untuk meraih gelar juara Liga Italia setelah terakhir mendapatkan Scudetto pada musim 2009/2010 ketika di bawah asuhan Jose Mourinho.

Selain mengakhiri penantian panjang, Inter Milan juga sukses berhasil menghentikan dominasi Juventus setelah selama sembilan musim selalu berhasil keluar sebagai juara Liga Italia.

Inter Milan tercatat berhasil menyabet gelar juara Liga Italia pada pekan ke-34 setelah saingan terdekat mereka, Atalanta hanya mampu bermain imbang melawan Sassuolo.

Keberhasilan Inter Milan ini hadir berkat konsistennya penampilan Nerazzuri dibarengi oleh kerap kehilangan poin pesaing mereka yaitu AC Milan dan Atalanta di beberapa pekan terakhir Liga Italia 2020/2021.



Usai juara, Inter Milan ditinggal Antonio Conte dan beberapa pemain kunci

Setelah sukses menjadi juara Liga Italia musim 2020/2021, Inter Milan harus menerima kenyataan ditinggal pelatih yang berhasil mengakhiri penantian selama 11 tahun, Antonio Conte.

Dikabarkan kepergian Antonio Conte dari Inter Milan terjadi karena ambisi pelatih berusia 52 tahun itu tidak sejalan dengan situasi keuangan yang dialami klub.

Pihak Inter Milan menginginkan memangkas pengeluaran gaji pemain sebesar 15-20 persen dan berkeinginan untuk menjual beberapa pemain yang menjadi kunci Nerazzuri meraih gelar Liga Italia musim 2020/2021.

Pada akhirnya, Antonio Conte secara resmi hengkang dari Inter Milan pada 26 Mei 2021 yang secara resmi mengakhiri hampir dua tahun ia menangani klub asal kota Milan tersebut.

Setelah kepergian Antonio Conte, Inter Milan juga memilih menjual salah satu aktor penting keberhasilan klub meraih gelar juara Liga Italia yaitu bek sayap asal Maroko Achraf Hakimi pada 6 Juni 2021.

Achraf Hakimi dijual sebesar 60 juta euro atau sebesar Rp965 miliar ke Paris Saint-Germain setelah hanya satu musim berseragam Inter Milan usai pindah dari Real Madrid.

Setelah Achraf Hakimi, Inter Milan juga memilih melepas top skorer mereka pada musim 2020/2021, Romelu Lukaku yang berhasil mencetak 24 gol ke Chelsea pada 12 Agustus 2021.

Inter Milan menjual Romelu Lukaku ke Chelsea dengan harga 115 juta euro atau sekitar Rp1,8 triliun dengan durasi kontrak lima tahun sampai musim panas 2026.

Cristiano Ronaldo memilih tinggalkan Liga Italia untuk kembali ke Manchester United

Salah satu peristiwa penting lain yang terjadi di Liga Italia tahun ini adalah hengkangnya mega bintang Cristiano Ronaldo dari Juventus jelang penutupan bursa transfer musim panas 2021.

Setelah sempat dikabarkan akan tetap bertahan di Juventus untuk musim 2021/2022, Cristiano Ronaldo secara mengejutkan akan meninggalkan Turin dan Manchester City dikabarkan menjadi pelabuhan selanjutnya.

Seiring berjalannya waktu, Cristiano Ronaldo pada akhirnya memilih kembali bergabung dengan Manchester United dengan biaya transfer yang mencapai angka 15 juta euro atau sekitar Rp240 miliar pada 31 Agustus 2021.

Hilir mudik pelatih top di Liga Italia musim 2021/2022

Setelah kehilangan Antonio Conte, Inter Milan bergerak cepat dengan menunjuk pelatih Lazio, Simone Inzaghi pada 3 Juni 2021 dengan durasi kontrak selama dua musim hingga 30 Juni 2023.

Kehilangan Simone Inzaghi yang sudah lima musim berada di kursi pelatih, Lazio memilih mendatangkan mantan pelatih Napoli dan Juventus, Maurizio Sarri pada 9 Juni 2021 yang mempunyai durasi kontrak hingga 30 Juni 2023.

Selain dua nama di atas, beberapa nama pelatih top juga hadir pada Liga Italia musim 2021/2022, seperti Jose Mourinho yang menangani AS Roma, Luciano Spalletti menuju Napoli dan Massimilano Allegri yang kembali ke Juventus.

Selain itu mantan penyerang AC Milan, Andriy Shevchenko juga turut kembali ke Liga Italia sebagai pelatih anyar dari Genoa menggantikan Davide Ballardini pada bulan November lalu.

Baca juga: Inter dan AC Milan kolaborasi rancang stadion bersama

Inter Milan tutup tahun 2021 sebagai juara paruh musim 2021/2022

Keluar sebagai juara Liga Italia musim 2020/2021, Inter Milan masih tangguh pada musim 2021/2022 dengan menutup tahun sebagai juara paruh musim dengan raihan 46 poin dari 19 pertandingan dengan rincian 14 kemenangan, 4 hasil imbang dan menelan satu kekalahan.

Di posisi kedua, terdapat seturu satu kota Inter, AC Milan yang berhasil mengumpulkan 42 poin dari 19 laga dengan rincian 13 kemenangan, 3 hasil imbang serta menelan tiga kekalahan.

Selanjutnya ada Napoli yang harus puas mengakhiri tahun 2021 di posisi ketiga setelah sempat duduk di puncak klasemen sementara Liga Italia selama 11 pekan sejak pekan ke-4 hingga ke-15.

Baca juga: Denzel Dumfries pastikan Inter tutup 2021 sebagai Capolista

Pada posisi keempat dihuni oleh Atalanta, selanjutnya Juventus berada di posisi kelima lalu AS Roma berada di peringkat keenam dan Fiorentina duduk di posisi ketujuh.

Di posisi tiga terbawah, terdapat Genoa pada posisi ke-18 dengan total raihan 11 poin, lalu di posisi ke-19 terdapat Cagliari yang mengumpulkan 10 poin dan di posisi juru kunci terdapat tim promosi Salernitana yang hanya mampu menorehkan 8 poin dari 19 pertandingan yang sudah dijalani.