Jambi (ANTARA News) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi mengungkapkan bahwa permukaan Danau Kerinci telah naik signifikan, diatas1 meter, dan dikatakan sebagai kondisi yang mengkhawatirkan.

"Dari pengamatan yang kita lakukan dan laporan dari masyarakat yang tinggal di pantai danau Kerinci diketahui permukaan Danau selama satu dasawarsa belakangan telah naik sekitar 1 meter hingga 1,5 meter," kata kepala BPBD Drs Basyarin, saat dihubungi di Kerinci, Senin.

Menurut Basyarin, kenaikan permukaan danau tersebut sampai telah menelan sebuah delta di desa Jujun dan lapangan bola masyarakat di beberapa desa terdekat dengan bibir pantai seperti yang terjadi di desa Koto Petai yang pantainya telah terkena abrasi hingga 50 meter dari batas pantai sebelumnya.

"Kenaikan permukaan sungai itu tentu saja sangat merisaukan kita untuk jangka panjang, pasalnya salah satu penyebab terusnya terjadi banjir di desa-desa di pantai belakangan ini adalah permukaan air yang naik itu telah `menyenakkan` atau menghambat laju arus sungai agar lebih jauh lagi dari perkampungan. Berapa lama kondisi itu akan terus terjadi," terangnya.

Karena itulah, tegas Basyarin, pihaknya telah melaporkan sekaligus mengajukan persoalan tersebut ke Badang Nasioanl Penanggulang Bencana (BNPB) agar jadi perhatian semua pihak.

"Kita sudah ajukan agar pihak PNPB dan LIPI pusat bisa melakukan riset terpadu dalam menyurvey penyebab kondisi danau tersebut, apakah telah teradi pendangkalan dasar sungai atau ada penyebab lain," paparnya.

Bahkan, imbuhnya, kalau memang telah terjadi pedangkalan dasar danau sepatutnyalah disusun perencanaan program pengerukan, agar air danau tidak lagi `menyenak` sehingga menghambat laju arus sungai.

"Atau kalau memang dinilai harus melakukan pelebaran terhadpa mulut sungai Batang Merangin yang menjadi alur pembuangan maka kita pun akan melakukan hal itu," jelasnya.

Hingga saat ini, kondisi permukaan danau tektonik tersebut memang terlihat seperti biasanya, tenang dan jernih menjadi habitat ikan Semah. Namun bagi masyarakat beberapa desa yang berada di pantai danau mengaku sangat merasakan telah terjadinya kenaikan permukaan sungai itu.

Di desa Koto Petai, saja sebuah lapangan bola telah hilang, di tambah beberapa rumah paling dekat dengan pantai kini sudah sering dilandar arus atau riak danau. Sebagian areal persawahan pun mulai menghilang karena telah tenggelam ditelan danau.

(KR-BS/S026)