Jakarta (ANTARA) - PT PLN (Persero) berkomitmen untuk mewujudkan target netralitas karbon di Indonesia melalui program transisi energi yang mendapatkan dukungan dari Badan Pembangunan Prancis (AFD).

Indonesia dan Prancis memperkuat kerja sama dengan memobilisasi dukungan teknis dan keuangan dari Grup AFD untuk transisi energi dan energi bersih di Indonesia, salah satu poin perjanjian adalah dukungan 500 juta euro untuk lima tahun ke depan.

"Kami berkomitmen untuk mendukung percepatan transisi energi demi masa depan yang lebih baik," kata Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Jumat.

Selama 10 tahun terakhir, AFD telah memobilisasi 520 juta euro untuk mendukung Indonesia dalam reformasi sektor energi, pembiayaan investasi publik, dan mobilisasi tenaga ahli dari Prancis.

Indonesia telah mengalami pertumbuhan ekonomi signifikan yang menyebabkan konsumsi energi menjadi dua kali lipat dalam jangka waktu tersebut.

AFD akan membantu Indonesia dalam bentuk hibah untuk bantuan teknis dalam persiapan dan pelaksanaan proyek, pinjaman lunak kepada pemerintah Indonesia dan PLN, atau bahkan pinjaman kepada sektor swasta untuk investasi energi terbarukan dan efisiensi energi.

Baca juga: Transisi energi ciptakan peluang baru bagi keberlanjutan bisnis PLN


Zulkifli menjelaskan pihaknya memiliki beberapa pendekatan untuk memastikan bisnis ketenagalistrikan yang berkelanjutan, di antaranya memastikan operasional perusahaan ramping dan efisien, memberikan energi hijau untuk masa mendatang, dan menjadi perusahaan yang berfokus pada pelanggan dengan memberikan layanan yang andal serta terjangkau.

Lebih lanjut dia menyampaikan ada empat hal yang harus menjadi perhatian agar transisi energi dapat berjalan dengan mulus.

Pertama, penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan. Kedua, investasi skala besar. Ketiga, penerapan teknologi dalam skala besar. Keempat, investasi pelanggan untuk beralih menggunakan peralatan rendah karbon.

"Dengan begitu, pengembangan bisnis dan kampanye electrifying lifestyle perlu lebih digaungkan. Sebut saja, seperti penggunaan kompor listrik, kendaraan listrik, dan perdagangan emisi," ujar Zulkifli.

Dalam skenario business as usual, emisi sektor listrik mencapai 0,92 miliar ton setara karbon dioksida pada 2060.


aca juga: PLN optimistis kurangi emisi karbon 100 juta metrik ton pada 2030


PLN lantas meluncurkan strategi demi menjadi perusahaan listrik yang bersih dan hijau, salah satunya menghentikan pembangunan serta memensiunkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) eksisting secara bertahap.

"Kami akan memensiunkan PLTU sub-critical sebesar 10 gigawatt pada tahun 2035. Kemudian PLTU super critical sebesar 10 gigawatt juga akan dipensiunkan pada tahun 2045. Tahap terakhir pada tahun 2055, PLTU ultra super critical 55 gigawatt dipensiunkan," tegas Zulkifli.

Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan pengumuman moratorium pembangunan pembangkit listrik baru di batu bara, serta publikasi rencana investasi PLN melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030.

RUPTL tersebut menegaskan bahwa porsi energi baru terbarukan lebih besar, yakni 51,6 persen atau 20.923 megawatt, sementara porsi energi fosil lebih rendah hanya sebesar 48 persen atau 19.652 megawatt.


Baca juga: Dukung nol emisi pada 2060, PLN pelajari teknologi penyimpanan karbon

Baca juga: Begini strategi PLN penuhi permintaan listrik pada 2060

Baca juga: PLN sebut bauran energi bersih capai 13 persen per Juni 2021