Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama PT Panorama Sentrawisata Tbk Budijanto Tirtawisata mengatakan para pelancong lebih meminati dan mengharapkan pengalaman fisik dalam suatu perjalanan (journey cycle) wisata karena tak semua dapat diganti dengan aspek digital.

Dia menganggap aspek digital dalam dunia pariwisata hanya merupakan sarana pendukung yang membantu perjalanan wisata.

Digital things adalah keniscayaan, tetapi sebagian besar dari aktivitas suatu perjalanan adalah melalui physical things,” kata dia dalam sebuah webinar, Jakarta, Selasa.

Jika dilihat dari proses suatu perjalanan wisata, lanjutnya, maka dimulai dari inspiration (inspirasi), lalu planning (perencanaan), booking (pemesanan), experience (pengalaman), dan sharing (membagikan).

Pada tahap inspirasi, secara fisik dapat dicari melalui travel exhibitions atau brosur. Sedangkan secara digital dapat ditemukan melalui google, media sosial, maupun newsletter.

Pada tahap perencanaan, secara fisik dapat dilakukan dengan mengadakan pertemuan terbatas bersama pihak yang ingin berwisata atau bertemu dengan konsultan perjalanan (travel consultant). Kalau dari dunia digital, dapat dilakukan melalui media sosial dan platform online rating & reviews terkait destinasi wisata tertentu.

Begitu pula dalam tahap pemesanan, pengalaman, dan sharing yang dapat dilakukan secara fisik maupun digital. Namun, ia menekankan akan pentingnya pengalaman yang sekitar 90 persen dilakukan secara fisik selama perjalanan wisata.

Selain itu, ia juga memaparkan terkait perbedaan agen tur yang konvensional dan online travel agent (OTA).

Untuk tipe pertama, agen tur memberikan kesempatan untuk berinteraksi dengan para pelanggan (costumer) dan mereka memiliki kapabilitas untuk mengatur perjalanan yang kompleks. Namun, adanya keterbatasan dari sisi waktu kerja menjadi penghambat.

“Sedangkan untuk OTA, memang provide fast dan instant information, tetapi dari segi kemampuan biasanya yang sifatnya simple trips,” kata Budijanto.

Ia juga membagi dua jenis kebutuhan pelanggan (costumer) wisata, yakni do it yourself dan do it for me.

Pada jenis pertama, dimaknai sebagai pelancong yang dapat melakukan perjalanan wisata secara mandiri. Biasanya, mereka yang disebut savvy traveler lebih banyak menghemat uang dalam jenis ini dan cenderung fleksibel ke mana tujuan wisata.

Adapun mereka yang disebut luxury traveler berarti dapat memiliki opsi ke mana tujuan wisata, karena pelancong jenis tersebut cenderung lebih mampu dan lebih mapan. “Sebagian besar yang masuk kategori ini adalah kelas menengah yang memang market sharenya sangat besar,” ungkap dia

Adapun pelanggan dalam jenis do it for me berarti membutuhkan orang lain, dalam hal ini melalui agen tur konvensional dan semacamnya.

Bagi savvy traveler, meskipun menggunakan agen tur, tetapi tetap menghemat keuangan dengan mengatur paket wisata.

Sementara itu, golongan luxury traveler cenderung memerlukan jasa konsultan perjalanan untuk membantu perjalanan dengan pengalaman yang memuaskan. Dalam arti, mereka sudah mengeluarkan biaya cukup besar dan berharap pelayanan yang diberikan oleh agen tur sesuai harga.

Baca juga: Wisatawan Indonesia prioritaskan pengalaman saat "staycation"
Baca juga: Pengalaman "staycation" di Bali & Lombok jelang akhir tahun
Baca juga: Pandemi ubah pola pikir wisatawan