Kupang (ANTARA) - Pos Pemantau Gunung Api Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengimbau warga yang berada di bawah kaki gunung tersebut untuk mewaspadai lahar dingin saat curah hujan tinggi di kawasan gunung itu.

"Masyarakat diimbau agar selalu mewaspadai ancaman aliran lahar dingin apabila intensitas hujan tinggi di puncak," kata Kepala Pos Pemantau Gunung Ili Lewotolok Stanis Ara Kian terkait dengan cuaca buruk yang terjadi di daerah itu saat dihubungi ANTARA dari Kupang, Jumat.

Baca juga: 27 kali letusan terjadi di Gunung Ili Lewotolok dalam sehari

Baca juga: Hujan pasir akibat erupsi Gunung Ili Lewotolok terjadi di lima desa


Ia mengatakan bahwa selain potensi adanya lahar dingin dari puncak gunung, warga di kaki gunung juga diminta untuk mengantisipasi potensi lainnya, seperti longsoran material lapuk yang bisa saja terjadi akibat hujan.

"Untuk saat ini curah hujannya masih rendah, karena intensitas hujan masih kecil, tetapi warga juga perlu hati-hati karena cuaca buruk bisa terjadi kapan pun," tambah dia.

Stanis juga melaporkan erupsi gunung Ili Lewotolok masih terus terjadi, namun tinggi letusannya tidak tinggi dan tidak terlalu membahayakan.

"Tinggi letusan antara 200-400 meter. Kalau meletus pada malam hari kita bisa melihat lava pijar," ujar dia.

Gunung Ili Lewotolok yang berada di Kabupaten Lembata sempat mengalami erupsi dengan ketinggian 4.000 meter pada November 2020, yang membuat warga di sekitar gunung api tersebut mengungsi.

Erupsi gunung api itu mengakibatkan penutupan penerbangan dari Kota Kupang ke Flores Timur dan ke Lembata.

Baca juga: Pemkab Lembata minta warga di kaki Gunung Ili Lewotolok tetap waspada